Sunday, January 17, 2016

Edisi Pantai: Pulau Merah dan Teluk Ijo

                Tempat ini sudah banyak dibahas di akun-akun travel blogger lainnya. Tapi ga salahkan kalau saya juga pengen bahas sesuai dengan sudut pandang yang berbeda. Yes! Red island atau yang dalam bahasa Indonesia Pulau Merah. Saya sempat mengunjunginya bahkan ngecamp semalam di pantai Pulau Merah.
Pulau Merah
                Well, kami hanya semalam ngecamp di pantai pulau Merah, yaiyalah ya. Abis itu, kami melanjutkan perjalanan ke TAMAN NASIONAL MERU BETIRI. Yohooo. Perjalanan yang ga bakal terlupakan. Taman nasional meru betiri searah dengan pulau Merah, tinggal keluar sekitar 500 meter dari pos retribusi kemudian belok kiri dan ikuti jalan. Kita akan melewati PT. Perkebunan Nusantara XII, Kebun Sungai Lembu. Nah sepanjang jalan akan tampak kebun-kebun kopi, pinus, sengon dan macam-macam pohon perkebunan lainnya. Hai jangan bayangkan jalan menuju pintu masuk TN Meru Betiri seperti jalan ke kawah Ijen. Malah jalanan peyek kacang macam di Baluran yang akan kalian temui. Tapi seruuuu banget.                Butuh hampir empat jam perjalanan dari penginapan menuju Pantai Pulau Merah. Mungkin karena harus berhenti untuk makan dan membeli perbekalan kali ya jadi lama. Balik lagi, pantai yang terletak di selatan Banyuwangi ini memiliki ciri khas yang berbeda. Ada sebuah pulau kecil dekat dengan pantai, itulah yang disebut pulau merah. Kenapa disebut pulau merah? Menurut sumber yang saya baca sih ada dua alasan, pertama karena warna pasir dan tanah di pulau tersebut berwarna kemerah-merahan sedangkan versi kedua menurut warga, dahulu ada pancaran cahaya merah yang bersinar sekitar 100 meter dari pulau tersebut sehingga diberilah nama pulau merah. Jika laut surut kita dapat berjalan menuju pulau merah. Namun sayang, saat kami kesana, laut sedang mengamuk dan pasang terlalu tinggi.
                Bahkan saat malam harinya, terjadi badai di pantai. Apalah daya kami yang hanya tidur dalam tenda. Ngeri sih tapi karena bareng-bareng yauda all is well ajalah. Anyway di Pantai Pulau Merah terkenal dengan keindahan sunsetnya. Sayanggggg banget lagi, kami sampai di sana ketika matahari sudah turun ke peraduannya , halah. Dan ga sempet liat sunseeeettt! Nah karena kami datang saat hari mulai gelap, tidak ada yang menarik retribusi panta. Retribusi pantai sendiri adalah Rp 5000,- per orangnya. Pantai yang terletak di teluk pancer ini memang awesome banget, ga kalah lah sama pantai Kuta di Bali.
                Nah pas uda masuk ke gerbang TN Meru Betiri, kami wajib membayar biaya tiket masuk. Untuk per orangnya sebesar Rp 7.500,-, sepeda motor Rp. 5000,-, kendaraan roda 4 sebesar Rp. 10.000,- dan Roda 6 sebesar Rp 30.000,-.
                Tujuan kami adalah pantai Teluk ijo, berjuang lagi deh melewati jalanan yang parah. Struggle man! Masih ada rumah-rumah penduduk disekitar jalan yang kami lewati. Desa Selarong namanya. Eits, sebelum sampai di pantai Teluk Ijo, kami melewati pantai Rajagwesi. Pantainya bagus walau kami hanya melihatnya dari jalan karena tidak sempat mampir. Di sebelah pantai ada sebuah lahan penuh rumput dengan satu pohon besar dan ada sapi-sapi sedang makan siang. Saya bilang pada Imboy, partner naik motor, bahwa pemandangan itu seperti di film little Khrisna. Haha.
                Finawesome. Sekitar setengah jam, kami sampai di pantai batu. Diberi nama pantai batu karena memang isinya batu semua. Masih harus berjalan lagi sekitar 10-15 menit dan sampai kami di Teluk Ijo. Yey! Pantai dengan pasir putih yang menawan dan air laut yang berwarna kehijau-hijauan serta suasana rindang membuat kami tidak tahan untuk mengabadikannya dalam jepretan kamera. Asyik sekali!


ally, sampailah kami di ... tempat parkir, yups kalau mau ke teluk Ijo, masih harus berjalan sekitar satu kilometer lagi dengan medan naik turun yang
                Puas dengan teluk Ijo, kami pun memutuskan pulang ke penginapan. Sebenarnya di taman Nasional Meru Betiri masih banyak spot wisata lain yang more awesome. Pantai Sukamade misalnya, melihat pelepasan penyu-penyu cantik membuat kami tergoda ingin kesana, sayangnya waktu tidak bisa diajak berkompromi. See ya beberapa tahun lagi Meru Betiri, saya akan menyambangimu lagi.
Tambahan : Hari itu, 19 Desember 2015 adalah hari ulang tahun Banyuwangi yang k 244 tahun. Kebetulan salah seorang dari kami mendapat undangan VIP untuk menonton perayaan ulang tahun Banyuwangi di Taman Blambangan, kami ikut saja. Menonton dangdut khas Banyuwangian dan kembang api simbol HUT Banyuwangi adalah hari terakhir yang ga bisa dilupakan. Banyuwangi memang punya cerita lain dalam kehidupan saya.
                Yuhuuy sampai jumpa lagi di perjalanan-perjalanan yang lain. Keep Awesome!


Kawah Ijen dan Penambang Belerang



Kawah ijen menjadi destinasi wajib yang harus dikunjungi jika ke Banyuwangi! Menjadi spot yang sudah famous di seluruh dunia membuat saya dan teman-teman tak ketinggalan untuk bercengkerama dengan dataran tinggi berkawah setinggi kurang lebih 3000 mdpl ini. Perjalanan kami mulai dari penginapan sekitar pukul 12 malam. Menyusuri jalanan panjang dengan kanan kiri hutan adalah perjalanan paling horrorrrr buat saya. Apalagi saya tidak suka malam dan parno terhadap kegelapan. Hanya ada sesekali bapak-bapak yang menyalip kami, namun karena motor kami hanya motor matic, kecepatannya ya standar saja sih. Anyway, walaupun malam hari dan gelap sepi serta seram, jalan menuju kawah ijen terkenal paling aman dan tidak rawan begal. Salut! Untung jalannya ga kaya jalan menuju sabana Baluran. Jalan ke Kawah Ijen sudah halus dan mulus kaya paha personil JKT48, eh.
                Satu jam sudah kami melewati jalanan sepi bak uji nyali, sampailah di pos pendakian Kawah Ijen. Retribusi masuk per orangnya adalah Rp 5000,- dan biaya parkir motor juga Rp 5000,-. Sebelumnya banyak sekali pemandu-pemandu lokal yang menawarkan jasanya ada pula beberapa orang yang menyewakan masker oksigen, karena katanya kalau pakai masker biasa tidak bisa menahan bau gas belerang sehingga berbahaya bagi kesehatan. Nah karena kami ke Banyuwangi dengan alibi tugas pemanduan, kamipun menyewa jasa salah seorang pemandu lokal. Mas Saipul begitu ia akrab dipanggil. Beliau berusia sekitar 30 tahun. Beliau sangat pendiam, namun pertanyaan-pertanyaan kami selalu dijawab dengan mantap olehnya. Kebanyakan pemandu di Kawah Ijen merangkap sebagai penambang belerang, kata Pak Saipul, ada kurang lebih 40 pemandu lokal di Kawah Ijen. Setelah berkenalan dan basa basi singkat kami langsung melangkahkan kaki menyusuri jalanan menuju puncak Ijen. Pembukaan jalur pendakian Ijen tidak tentu waktunya, tergantung kondisi agar pendaki tetap aman. Kadang bisa pukul 2 malam baru dibuka, padahal blue fire yang  menjadi ciri khas Kawah Ijen menghilang sekitar pukul 5 dini hari.
Papan peringatan
                Banyak sekali pendaki yang naik bersama kami, padahal bukan weekend. Hal ini membuktikan betapa diminatinya Kawah ijen sebagai destinasi wisata. Hmm kira-kira setelah hampir kurang lebih 2 jam setengah kami tiba di puncak Ijen. Aaaaa paraahnya blue fire ga kelihatan dari puncak, so we should going down the creater. Padahal, sudah ada peringatan untuk tidak turun ke dalam kawah. Yah namanya manusia, peringatan kan untuk dilanggar, dalihnya. Toh kami pun turun juga. Nah ini nih fungsi pemandu. Pak Saipul membantu kami mencari jalan menuju titik-titik blue fire. Dari puncak menuju kawah sekitar 800 meter, dan medannya uwhh ekstrim pisan. Sebelum turun sebaiknya menyewa masker oksigen deh, biasanya disewakan sekitar Rp 25.000,-. Penting banget, biar napas tetap lancar karena bau belerang benar-benar menyengat.

Penambang Belerang
                Mulailah kami menyusuri jalanan menuju kawah. Sepanjang perjalanan, kami selalu berpapasan dengan penambang belerang. Saya takjub dengan para penambang, mereka hanya menggunakan pakaian seadanya dan kadang tanpa masker membawa belerang yang beratnya bisa berkilo-kilo. Dan taukah? Harga belerang perkilonya dipatok dengan harga Rp 800,-. Miris saya mendengar pemaparan Pak Saipul mengenai penambang belerang. Beruntunglah, sekarang sudah ada troli dari puncak, sehingga penambang belerang tidak perlu memanggul belerangnya terlalu jauh. Tapi tetap saja, harusnya harganya dinaikan, kan kasihan.
                Meninggalkan penambang belerang, kami sudah sampai di bibir kawah. Hanya ada beberapa spot blue fire kecil yang dapat kami lihat. Udara yang sangat dingin serta ngantuk membuat saya tidak lama-lama menikmatinya, banyak orang yang turut berkerumun juga membuat saya enggan berlama melihat blue fire. Pak Saipul mengambilkan kami beberapa batang belerang dan mengatakan bahwa kalau belerang itu dibakar akan keluar api biru. Kamipun membuktikannya dan walaaa mini blue fire terbentuk dari belerang yang dibawa Pak Saipul tadi.
blue fire. pict by Tegar
                Matahari mulai menampakan sinarnya, blue fire sudah menghilang sejak jam 5 dini hari, dan kawah belerang terlihat mempesona menyambut mentari pagi. Sekitar yang tadinya gelap mulai kelihatan dan menyombongkan relief-relief keindahannya. Kami pun berfoto-foto layaknya wisatawan pada umumnya. Lanjuttt menanjak untuk kembali turun. Iya menanjak dulu abis itu turun, struggle! Sepanjang perjalanan turun, mata akan disuguhkan pemandangan alam yang indah banget. Kalau beruntung bisa lihat lutung yang bergelantungan di pohon-pohon. Asik sekali.
                Finally nyampe bawah juga! Oh iya, menyewa jasa guide di Kawah Ijen sekitar Rp 150.000,- tapi itu manfaat banget yakin. Selain membantu perekonomian masyarakat lokal, kita juga bisa nanya-nanya banyak hal sama pemandu. Totally worthed.
                Hei perjalanan saya belum berakhir! Selamat menikmati tulisan saya, tunggu cerita tentang Red Island and Meru Betiri National Park yeahhh! Happy traveling human J


Pesona Pulau Tabuhan dan Menantangnya Taman Nasional Baluran


Wuhuuuuw akhir tahun yang menyenangkan dengan perjalanan yang luar biasa. I am deeply in love with BANYUWANGI. Bulan Desember 2015 kemarin, saya dan beberapa teman sekelas memutuskan mengadakan perjalanan ke Banyuwangi, sebenarnya tidak murni jalan-jalan sih. Lebih tepatnya menyelesaikan tugas kelompok pemanduan mereka, saya mah ngikut-ngikut aja. Diputuskanlah tanggal 16 Desember 2015 kami memulai trip ala-ala 5 cm kami. Sebelumnya, kami telah membeli tiket kereta untuk berangkat dan pulangnya. Cuma ada satu kereta dari Yogyakarta ke Banyuwangi yaitu kereta api Sri Tanjung dengan harga Rp 100.000,-. Jadi kalau di total sih tiket pp habis sekitar Rp. 200.000,-.
Rabu pagi kami berenam sudah siap tempur dengan perjalanan hampir 12 jam yang akan kami lalui. Nuha, Tegar, Mamang, Imboy, Miya dan Flora siap menuju pucuk tenggara pulau Jawa. Yuhuuuu!!
Penginapan 
Stasiun tujuan kami adalah stasiun Karangasem, kami memilih stasiun Karangasem karena merupakan stasiun yang cukup strategis dalam menjangkau beberapa objek wisata yang akan kami datangi. Pun juga, karena penginapan yang akan kami tempati tidak jauh dari stasiun tersebut. Tepat pukul 9 lebih 10 menit malam kami sudah sampai di stasiun Karangasem dan langsung merapat ke p

enginapan di belakang stasiun. Penginapan tersebut milik Ibu Dewi, sebelumnya kami telah menghubungi beliau sehingga setibanya di penginapan kami bisa langsung ambruk di kasur.
Hari pertama di Banyuwangi! Pagi-pagi sudah disambut dengan sarapan pagi di penginapan, serasa di rumahlah. Destinasi pertama kami adalah Pulau Tabuhan yang jarak dari penginapan sekitar 52 km dan kami tempuh sekitar satu jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Yup! Di penginapan Bu Dewi juga menyediakan penyewaan sepeda motor. Satu hari per satu motor adalah Rp 75.000,-. Karena kami berenam, jadi kami menyewa tiga motor. Lanjut ke first destination. Nah, awalnya kami gatau cara menuju pulau Tabuhan. Ada dua alternatif sebenarnya, yaitu melalui pantai watu dodol atau melalui pantai Bangsring. Kami memutuskan melalui pantai Bangsring.
pulau Tabuhan
Sebenarnya pantai Bangsring bukanlah sebuah tempat wisata karena belum memiliki izin wisata. Pantai Bangsring adalah zona perlindungan bersama, namun akibat banyaknya animo masyarakat yang ingin berwisata disana, akhirnya dibukalah beberapa spot untuk wisatawan. Jalan menuju pantai Bangsring sendiri tidak begitu kentara karena tidak adanya penunjuk jalan. Hanya ada baliho bertuliskan zona perlindungan kecil di sisi kiri jalan. Jika tidak seksama mengamati maka akan terlewat.
Tetapi, kita tetap berhasil sampai di lokasi. Di pantai Bangsring sendiri ada beberapa spot snorkeling tanpa harus menyeberang ke pulau Tabuhan. Juga ada rumah apung, tempat penangkaran hiu-hiu kecil.serta beberapa olahraga air ringan yang disewakan. Untuk menuju rumah apung, cukup membayar Rp. 5000,- untuk penyeberangan, dan jika ingin bersnorkeling, penyewaan alatnya Rp. 25.000,-. Karena tujuan utama kami adalah pulau Tabuhan, kami harus mengeluarkan sekitar Rp 450.000,- untuk biaya penyeberangan serta jasa pemandu sebesar Rp. 50.000,-. Berangkatlah kami menuju pulau kecil Tabuhan!
Sebenarnya saya sedikit kecewa, karena tidak sesuai dengan ekpektasi snorkeling saya heuheu. Tapi over all, menyenangkan! Semua perjalanan akan menyenangkan jika bersama sahabat terbaik bukan. Pulau Tabuhan dan pantai Bangsring sendiri mulai dibuka sebagai destinasi wisata baru pada awal tahun 2015 kata pemandu kami yang bernama pak Yitno. Masyarakat disini kebanyakan memakai bahasa madura dalam berkomunikasi, walaupun dekat dengan pulau Bali. Saya jadi heran, kenapa kok bisa gitu? Ya sudahlah. Anw, kekecewaan saya bertambah, karena melihat kondisi pulau dan laut yang banyak sampah bertebaran. Tidak sepenuhnya dari wisatawan yang datang sih, bisa saja sampahnya berasal dari sampah-sampah yang hanyut dari pulau bali, pelabuhan atau banyuwangi sendiri. Sayang banget. Padahal jika tidak ada sampah, terumbu karang di pulau Tabuhan juga lumayan bagus untuk dieksplor.
penangkaran hiu, rumah apung
Puas mainan air di pulau Tabuhan, kami kembali ke daratan di pantai bangsring. Eh tapi sebelumnya, mampir dulu di rumah apung untuk melihat penangkaran hiu. Hampir sama kaya di pulau Menjangan Besar di Karimun Jawa. Bedanya spotnya lebih kecil. Dan kata pak Yitno, hiu-hiu itu diambil dari laut disana ketika malam hari, sebenarnya saya agak sedikit bingung dengan penjelasan beliau hehe. Sayang banget lagi! Sampah lagi, sampah lagi. Its destroy everything lah. Kasihan hewan-hewan di penangkaran kalau laut sekelilingnya penuh sampah. Saya saja jijik untuk menyelam disana. Tapi, masyarakat disana sudah berusaha mengurangi sampah di daerahnya kok. Mereka juga melakukan pembibitan terumbu karang. Kebetulan kemarin kami sempat melihat mereka menurunkan tempat pembibitan terumbu karang tersebut.
Rencana awal kami sih setelah dari pulau Tabuhan langsung balik ke penginapan. Namun, karena jarak ke Baluran Cuma satu jam, akhirnya kami tergoda dan memutuskan untuk langsung meluncur ke Baluran!
Setelah satu jam melakukan perjalanan, yuhuuuuu welcome to Baluran national Park! Sabananya Indonesia, little Kenya-nya Indonesia. walaupun katanya sabana di Sumba lebih bagus. But, Baluran pun tak kalah membuat saya takjub! Wee ga cukup tiba di pos Baluran, kita butuh sekitar satu jam untuk menuju sabana-nya. Daaaaannn jalaaannnyaa, kaya peyek kacang lah ya! Butuh kekuatan ekstra untuk melewati jalan dari pos menuju sabana. Apalagi kami semua menggunakan motor matic. Struggle!
Taraaa, setelah berkutat dengan jalanan yang awesome nan menantang. Halah. Akhirnya kami tiba di sabana bekol uwuuww! Tapi sebelum menyusuri sabana, kami makan dulu! Makan nasi Tempong! Nasi khas Banyuwangi, nasi yang terdiri dari sambal, ayam, ikan asin, sayur dan tempe tahu ini lumayan mengisi perut yang kosong. Puas makan, segera kita naik ke gardu pandang dan foto-foto (perilaku wisatawan) di Baluran. Sayang kami ga ketemu badak maupun banteng huhu. Baluran adalah salah satu spot yang akan saya kunjungi lagi ketika saya ke Banyuwangi!

Waktu semakin berlari mengejar malam, hais hehe. Akhirnya kami memutuskan untuk balik ke Penginapan. Hujan deras ditemani jalanan Baluran yang ekstrem menjadi cerita lain dalam perjalanan kami pulang. see ya on Banyuwangi page two ya! Salam Jelajah!
sabana bekol

Baluran

Friday, November 20, 2015

Jelajah Karimun Jawa Part II

                Jarang main ke pasar, sekalinya ke pasar langsung ke pasar Karimun Jawa. Hari ketiga adalah hari terakhir kami berada di pulau kecil ini. waktunya berburu oleh-oleh! Sebenarnya bukan waktunya sih, tapi kami para ciwi-ciwi rela bangun jam 6 pagi demi ke pasar buat beli ikan-ikan untuk oleh-oleh di rumah. Yups, prinsip pariwisata kan selain something to see, something to do dan something to learn kan masih ada yang paling wajib yaitu something to buy. Saran saja sih, mending emang beli ikan di pasar langsung aja, gilaa harganya murah bangettttt. Saya hanya mengeluarkan Rp 55.000,- dan sudah mendapatkan hampir 7 item ikan-ikan laut yang sudah di keringkan dan kerupuk kepiting. So cheapyy hihi!
                Selain beli ikan-ikan kering, kami juga membeli bedak dari bubuk beras putih yang biasa digunakan ibu-ibu karimun untuk melindungi wajahnya dari teriknya sinar matahari. Rencananya sih mau dipakai ala-ala sunblock tradisional gitu tapi pas diaplikasikan ke wajah, malah jadi kaya badut haha.
                Lanjut saja neeh, kami langsung cus menggunakan kapal kecil menuju pulau gosong. Yup dari namanya aja udah ketahuan bahwa kita bakal dibikin gosong-segosong-gosongnya. Pulau gosong dapat ditempuh sekitar 15menitan dari dermaga kapal di karimun. Pulau Gosong hanya ada ketika laut sedang surut, pulau ini hanya terdapat gundukan pasir putih dan karang-karang kecil. Ga lama kami di pulau Gosong, kami langsung tancap gas menuju pulau cilik buat snorkeling manja disana. Waktu yang di tempuh ga lama buat sampai pulau cilik, mungkin sekitar 10-15 menit saja.
                Sebelum snorkeling kita dibekali ilmu dulu. Setidaknya banyak ilmu yang benar-benar bertambah, sebagai seorang pemula dalam hal laut kelautan hahaha. Pesan pertama adalah Jangan injak ataupun sentuh terumbu karang, thats why, kita snorkeling di kedalaman 3-4 meter, ngeri pisan. Padahal kemampuan renang saya masih abal-abal gimana mau nyelam huhu. Untung saja mas-mas guide kita rela membantu. Bayangin saja kalau terumbu karang kita sentuh atau injak-injak, kan bisa ngerusak ekosistemnya, padahal terumbu karang tu juga makhluk hidup, butuh satu tahun untuk tumbuh setinggi 1cm dan butuh 100 tahun untuk membentuk terumbu karang seindah 1 meter.
                Puas banget snorkeling dan bisa lihat terumbu-terumbu karang yang bagus banget. You should be there! Sehabis snorkeling, kami menikmati makan siang dan santai ria di pulau cilik. Saya benar-benar jatuh cinta dengan pasir pulau cilik. Halus dan lembut! Katanya dari kotoran ikan yang mengendap. Eh benar ga sih? Yah pokoknya, really Love Pulau cilik!
                Ga selesai sampai di sana. Bang Jay dkk menawari kami untuk ikut membantu memunguti botol-botol bekas di salah satu pantai di Karimun Jawa setelah kami selese bersnorkeling lagi di spot plawangan, emm kalau tidak salah. Nah abis snorkeling itu, kami langsung membantu walaupun sedikit membersihkan pantai dari botol-botol plastik yang jumlahnya banyak banget. Yahhh, setidaknya mengurangi sedikitlah. Tolong yuk kawan. Cintai alam kita sebagaimana alam mencintai kita dengan memberikan panorama yang indah. Kasihan kan kalau dikasih sampah terus. Gimana perasaanmu kalau tubuhmu dilemparin sampah? Kesel kan? Makanya ayoo jaga lingkungan alam kita, jangan buang sampah sembarangan!
                Uuuuuu selesai sudah kami memnguti sampah yang tak seberapa yang mampu kami bawa. Hari sudah menjelang sore, waktunya kembali ke dermaga. Eits! Belum dulu, kami masih diajak mampir ke pulau Menjangan Besar untuk melihat penangkaran hiu-hiu kecil dan patrick! Eh bintang laut. Binatang favoritkuuuuu! Santai saja, walaupun namanya hiu, kita tetap aman kok walau masuk ke dalam penangkarannya. Mungkin mereka sudah dilatih kali ya. Kamu juga bisa melihat kura-kura, ikan gembung, bintang laut, dan anemon yang menyembunyikan little Nemo, eh ikan badut. Uh harusnya mereka hidup bahagia di laut ya, tapi inilah yang dinamakan Pariwisata. You can do everything just to make money. Selesai sudah perjalanan laut kami.
                Nah karena hari ini hari terakhir, malamnya kami diajak berbelanja oleh-oleh lagi di Alun-Alun Karimun Jawa. Oleh-oleh khas karimun yaitu gelang, tasbih atau gantungan kunci dari kayu dewandaru. Kayu dewandaru adalah kayu yang dikeramatkan di karimun Jawa. Namun, karena Karimun belum memiliki ciri khas, akhirnya kayu dewandaru dikembang biakkan dan dioleh menjadi cinderamata khas Karimun Jawa. Kamu dapat menjumpai banyak pedagang cinderamata dan kaos-kaos di alun-alun. Harga satu gelang kayu dewandaru adalah Rp 25.000,-  dan tasbih Rp 50.000,- tapi kamu dapat menawarnyaaaa!!
                Wuhuuuu hari keempat adalah hari perpisahan. Sedih rasanya meninggalkan pulau yang indah ini. banyak kenangan yang membekas di Karimun Jawa, banyak ilmu yang saya dapatkan dan kamin mempunyai teman baru, saudara baru. Terima kasih bang Jay, mas Jojo dan mas Dije telah membuat kami nyaman berada di pulau orang ini. tetap berkarya, buatlah Karimun Jawa lebih nyaman dan berhati bersih. Semangattt!
                Sampai jumpa di vakansi berikutnya! Happy Travelling guys!


             

Jelajah Karimun Jawa Part I


                Saya tidak menyangka bisa melangkah sejauh ini, dengan sedikit uang tabungan hasil tidak hedon selama beberapa bulan, finally i got my first travel destination on my travel list, KARIMUN JAWA. Such a little paradise of central java. Ga bisa dideskripsikan betapa bahagianya bisa menapakkan kaki di sebuah pulau di utara pulau jawa yang katanya ga kalah sama pulau-pulau di timur Indonesia sana.
                2 November 2015, sekitar pukul 2 dini hari, saya dan rombongan yang terdiri dari 2 kakak sepupu dan 2 temannya tiba di pelabuhan kartini Jepara. Pengambilan waktu yang salah! Karena tidak punya pikiran buat nyewa homestay, kami berlima macam gelandangan tidur di pelabuhan ditemani nyamuk-nyamuk haus darah yang dengan senang hati memberikan oleh-oleh berupa bentol-bentol di kaki dan tangan. Padahal kalau nyewa homestay, Cuma sekitaran 30-50 ribu saja. Beruntunglah salah satu warung, warung pak bambang lebih tepatnya berbaik hati meminjamkan kami tikar supaya kami bisa tidur lelap menunggu keberangkatan kapal keesokan harinya.
                Teeeettttt, bunyi kapal siginjai membuat kami tambah semangat untuk memulai hari di awal bulan November ini. Setelah sarapan sup udang yang enakk sekali, kami segera berjalan menuju kapal yang siap berangkat. Eits, sebelumnya, mas Dije selaku apa ya? Anggap saja beliau teman baru kami, teman kaka sepupu saya, dan salah satu anggota Jelajah Karimun jawa yang paketnya kami gunakan, membelikan tiket kapal untuk kami. Tiket kapal siginjai saat ini adalah Rp 57.000, ditambah biaya pembayaran retribusi pelabuhan Rp 2000,- jika ingin membawa motor, biaya motor dikenakan Rp 50.000,-. Berangkatlah kami berenam, yey!!
                Lima jam perjalanan laut terlalui dan tibalah di pulau KARIMUN JAWA. Akhirnya kaki ini menapak di pulau yang menawarkan ribuan pesona alamnya huehehe. Sesampai di pelabuhan kami dijemput oleh mas Jojo, nah beliau inilah teman kakak sepupu saya, sekaligus akan menjadi guide kami di Karimun selama 4 hari 3 malam. First impression saya sih, mas Jojo orangnya asik dan bakalan gilaaaaa, dan ternyata benar sekali. Beliau membuat perjalanan kami di Karimun layaknya para petualang yang haus pesona alam Indonesia *duh maafkan kealayan saya*. Sehabis bertegur sapa dan berkenalan kami langsung tancap gas menuju homestay RG, Js. Homestay-nya kaya rumah sendiri ditambah it located near the port, you could see many fishermans boats and blue ocean infront of your eyes. How BLISS i  am! Eh ngomong-ngomong, di depan pelabuhan ada Tourist Information Center loh, kamu bisa tanya-tanya disana kalau masih bingung. Ada brosurnya juga, tapi sayang, saya lupa mau minta.
                Karimun Jawa adalah salah satu pulau besar diantara gugusan pulau lain di kepulauan Karimun Jawa. Masyarakat pulau Karimun masih sama dengan masyarakat di jawa, karena kebanyakan penduduk karimun memang berasal dari jawa dan sebagian madura dan bugis. Hari pertama di pulau karimun, kami habiskan dengan beradaptasi dengan lingkungan karimun. Mas Jojo mengajak kami ke pantai Legoon lele, jalan menuju pantai ini sangat indah dengan pemandangan bukit di kiri jalan dan pantai-pantai di kanan jalan. Pantai Legoon lele termasuk pantai yang jarang dikunjungi, terdapat satu kapal terdampar disana, pantainya bersih dan kata mas Jojo, ketika laut surut, kita bisa berjalan lebih ke tengah menuju laut. Ah karimun, ada-ada saja yang kau tunjukkan.
                Oh iya, salah satu yang bikin saya terkesan dengan karimun adalah kebiasaan masyarakat sana yang membiarkan kunci motor tetap tergantung di motor tanpa khawatir motor akan dibawa kabur orang. Saya sedikit was-was ketika pertama kali meninggalkan motor dengan kunci yang masih bergelayut manja di motor. Tapi, ternyata benar, motor ga bakal ada yang bawa pergi, karena mau dibawa pergi kemana, pasti akan ketemu kalau seandainya di curi orang, karena ya hanya di pulau itu saja. Buktiin deh kalau kalian ke Karimun, pasti banyak motor nganggur dengan kunci yang masih bergantungan.



                Nah sehabis dari legoon lele, kami beranjak menuju pantai pancuran belakang, saya membayangkan pantainya seperti pantai banyu tibo di pacitan, tapi kenyataaannya ternyata berbeda. Memang sih ada pancuran air tawar tapi tidak deras karena saat itu belum musim penghujan. Tapi pantainya tetap indah! Ada penyewaan kano juga disana, ada ayunan, dan beberapa penjual minuman ringan oleh penduduk setempat. Cukup lama kami habiskan waktu di pantai Pancuran Belakang. Setelah puas, mas Jojo mengajak kami mencari kepiting di salah satu pantai tak bernama, atau saya saja yang ga tau namanya. Sebelumnya beliau mengajak beberapa anak muda Karimun untuk ikut bersama kami. Ada mas mamat yang katanya asli Jogja, kemudian mas blablabla atau mas george atau entahlah nama aslinya, dan satu lagi, saya lupa namanya. Tapi sudah hampir satu jam kami mencari kepiting, kepiting tak jua kami dapatkan. Mungkin karena kami tidak berbakat jadi nelayan pemburu kepiting, atau perlu pakai umpan uang biar tuan krab mau muncul dan menjadi santapan kami nanti malam, hahaha.
                Karena ga berhasil dapat kepiting atau kerang akhirnya kami balik dan mas-mas karimun tadi memetikkan beberapa kelapa muda untuk kami. Ah segarnya, wehh kami juga jajan di warung dan harganya ga beda jauh sama di jawa. Oh iya, hasil bumi yang paling dikenal untuk oleh-oleh yaitu mete yang perkilonya sekitar Rp 75.000,- kalau tidak salah. Sayang saya ga beli.
                Lanjut neeehhh, setelah minum dan jajan-jajan ringan, kami melanjutkan ke bukit Love. Ya kenapa di sebut bukit love atau bukit cinta, karena di sana ada lambang love yang biasa digunakan untuk berfoto. Selain itu, naik sedikit kami sudah menemukan bukit dengan tulisan karimun jawa dan view pantai yang indah bangeeettttt buat ngeliat sunset. What a beautiful twiligh i’ve ever see!! Matahari seolah dengan angkuhnya tenggelam di batas cakrawala. Senja yang indah untuk mengakhiri hari pertama di Karimun Jawa.
                Malamnya setelah makan malam dan bersih-bersih, saya dan dua teman kakak sepupu saya, mbak Atina dan mas Huda ngobrol santai dengan mas Jojo dan mas Dije dan satu lagi guide well yang bikin gila dengan ide-idenya, bang Jay. Kami ngobrol seru tentang pengolahan sampah botol plastik dan keadaan karimun serta masyarakatnya dalam menghadapi kepariwisataan di Karimun Jawa. You should know, not everybody knew about tourism in their hometown, they only knew how to made these destinations famous and have a lot of tourist but didn’t knew how to save the nature. So, that’s way, we should knew about sustainable tourism, ecotourism and the impact of the tourism. Obrolan yang penuh bobot untuk malam yang melelahkan, tapi rasanya otakku terisi lagi, ga percuma dong bolos kuliah (jangan ditiru) tapi di Karimun malah dapat kuliah berpuluh-puluh sks dan itu worthed banget.
                Hari kedua pun datang! Hari ini saya dan rombongan menyusuri wisata darat di Karimun Jawa. Destinasi pertama kami adalah pantai Anora dengan gundukan bukit cintanya hehe. Pantai Anora adalah pantai tersembunyi yang jarang di ekspos oleh wisatawan domestik, katanya kebanyakan yang datang malah wisatawan mancanegara yang memang senang blusukan. Aku suka pantai Anora. Sebenarnya pantai dan bukit ini adalah milik investor swasta kemudian oleh Bapak Asrori ditata sedemikian rupa sehingga menjadi objek wisata yang menakjubkan. I thought it was like little Belitong. Yah walaupun saya belum pernah ke Belitong. Tapi, Anora menyajikan eksotisme pantai yang berbeda. Semoga kelestariannya tetap lestari. Ada sedikit cerita lucu tentang asal-usul nama Anora. tanpa sengaja saya nyeplos, “Namanya Anora, mungkin bapaknya pengen ngasih nama Amora yang artinya cinta tapi kepleset jadi Anora kali ya.” Nah lalu ditimpali oleh seorang bapak-bapak penduduk lokal yang sedang duduk di warung sebelah, “Asal nama Anora itu dari kata Ana po ora, karena sebelumnya tidak ada yang tahu siapa pemilik dari bukit dan pantai itu.” begitulah pendapat bapak yang katanya dulu berasal dari jawa tengah yang sudah merantau ke karimun sejak 30 tahun lalu.
                Wihi next destination aja deh. selanjutnya kami melajukan motor kami melewati jalan beraspal yang menghubungkan pulau Karimun Jawa dengan pulau Kemujan menuju kawasan hutan mangrove. Jadi, kata mas Jojo, hutan mangrove inilah yang bikin karang-karang di karimun tetap bagus. Eh tanpa hutan mangrove ini, pulau kemujan dengan karimun ga bakal tersambung kaya sekarang. Yups kita bareng-bareng treking mengelilingi jalanan kayu mengitari hutan mangrove sampai ke pos pemantauan (sebenarnya namanya pula saya tak tahu). Nah sebelum ke pos, mas Jojo ngajarin kita nanam mangrove. “Yuk ke kutub nanam mangrove” what the damn words speak out from my mouth haha. Yah selain nikmatin pemandangan yang addorable, kita juga dapat ilmu yang bermanfaat. Terima kasih Jelajah Karimun
                Abis nanam-nanam mangrove, kami gas menuju pantai di ujung karimun, pantai yang katanya jarang di jamah wisatawan. Perjalanannya sangat mengasikan, kami lewat kampung suku bugis dengan aksen khas rumah adat panggungnya. Wih pulau kecil yang beragam suku.
                Dan aku tahu mengapa pantai ini jarang di kunjungi. Trek menuju kesana so damn awfull, berpasir dan berkelok-kelok (lebay). Ya tapi memang seperti itu. finally we got it! Welcome to Pantai Batu lawang atau pantai Watu nganten, kenapa dinamakan seperti itu? karena ada dua batu besar menjorok ke tengah laut dan katanya mereka pasangan yang tidak direstui kemudian kabur begitu saja. Seremm! Tapi sungguh, pantai ini beda dari pantai-pantai lain, kamu mungkin tidak akan mudah menemukan pantai jenis ini, dimana hamparan alga hijau memenuhi pinggir pantai dan it was really amazing views. Terbayar susahnya menuju pantai ini. matur suwunun Gusti!
                Cukup lama kami di pantai Batu Lawang. Suasananya yang sepi dan kebersamaan yang menyenangkan membuat kami lupa bahwa masih ada destinasi yang belum kami kunjungi. Akhirnya, setelah ga mager, kami bangkit dan melanjutkan perjalanan.
                Bang Jay memang benar-benar membuat kami explore Karimun Jawa. Belum puas menunjukan kami hamparan alga hijau, beliau membawa kami ke pantai terpencil diseberang hutan mangrove dengan jalan yang bisa dibilang ekstrim. Namun, kami hanya sebentar di pantai terpencil tersebut, kami melanjutkan ke pantai disebelah pantai barakuda, pantai dengan pohon kelapa yang melambai-lambai syahdu. Eh sebelumnya kami membeli es potong goreng yang enak banget, harganya Cuma Rp 3000,- loh, serasa balik ke masa kanak-kanak.
                Hanya sebentar kami di pantai itu, bang Jay lalu mengajak kami ke pantai tanjung gelam untuk melihat sunset. Ga di Karimun kalau tiap senja ga lihat indahnya matahari tenggelam. Sebenarnya tanjung gelam juga ada spot snorkelingnya kata mba ratri, sepupu saya, namun untuk trip laut kami mengambil hari ketiga. Kami memutuskan hanya menikmati sunset dan berfoto di pohon kelapa yang hitz banget. Sayang, semua kamera baterainya telah habis haha. Hari kedua kami berakhir ditutup kembali dengan keindahan sunset pantai Tanjung Gelam!

                See you on karimun jawa chapter II in days 3. Happy vacation!

Thursday, October 29, 2015

Rinduku untuk Prau dan Kalian

                Gunung prau adalah gunung kedua yang saya daki bersama teman-teman saya. Pengalaman yang paling mengenang sekali!!
                Kami berangkat dari Jogja sekitar pukul 6 sore sehabis solat magrib dengan keadaan hujan lebat. Tadinya saya sempat ragu dan tidak jadi ikut. Namun, karena banyak yang ikut akhirnya kami memutuskan untuk berangkat. Menerjang rintik-rinrik hujan yang semakin deras. Kami berangkat ber 11. Dan willy naik motor sendiri huhu.
                Intinya sampai di dieng dan basecamp pendakian gunung prau pukul 12.00 kurang dan setelah solat isya kami pun langsung tancap kaki dan pergi mendaki. Rintik gerimis tidak menghalangi langkah kaki kami. Sembari tertawa dengan guyonan-guyonan dina yang absurd (really miss that moment) kami melewati tapak demi setapak jalur pendakian. Saat itu, gunung prau sedang ramai-ramainya. Bahkan untuk mencapai puncak kami harus mengantri seperti di mall.
                Finally kami sampai di puncak dannnnnnnn tidak seperti ekspektasi kami, gunung prau saat itu benar-benar seperti pasar malam dimana tenda-tenda begitu banyaknya mengalahkan jumlah pohon. Bagas bete. Lalu kami naik ke bukit yang lumayan sepi dan mendapatkan tempat berdiam. Saat itu kami tidak membawa tenda dan hanya menggunakan sleeping bag.
                Pagi datang! Sunrise yang banyak dikatakan sebagai sunrise yang paling indah pun muncul ke permukaan, hurayyyy!

                Sebenarnya perjalanan ke gunung prau ini banyak sekali critanya mulai dari berangkat sampai pulang. namun ada bab-bab yang tidak seharusnya diceritakan. But, thanks bangettttttt guys!!!! Terimakasihhh NUHA, WILLY,  TEGAR, DINA, PRINCA, NURMA, NILNA, BAGAS, HAFIDZ, MAMANG! Kalian luar biasa. Rindu sekali dengan perjalanan kita. Kapan kalian selo dan kita jalan-jalan lagi :”

Sunday, October 18, 2015

Kemping Ceria

                Minggu-minggu yang padat dengan acara yang silih berganti membuat saya kurang piknik! Beruntungnya, minggu lalu, tepatnya hari jumat, saya dan beberapa teman dari futsal putri UGM pergi kemping ceria. Nama resminya sih makrab futsal putri UGM. Namun, karena hanya sedikit yang ikut jadi diubahlah jadi kemping dan main-main ceria bersama futsal putri UGM.
                Pada awalnya akan dibagi menjadi dua kloter karena ada beberapa yang bisa siang hari dan ada yang sedang ujian sehingga bisanya sore hari. Namun kenyataannya, kita semua berangkat malam hari. Iya! Malam! Pukul 6 sore kami janjian di gelanggang, baru sedikit yang datang dan masih menunggu tenda dan konsumsi. Akhirnya, kami makan-makan dulu di foodcourt gelanggang. Tarararaa.. molor dan berangkatlah kami pukul setengah 9 kurang dikiit haha. Kami ber 14 orang dan perempuan semua. Gaada kata takut atau worried tentang apapun. Gaada yang rewel gajadi ikut. Padahal ada beberapa yang sedang flu dan tetap dibela-belain ikut. Cinta banget sama anak futsal UGM!
                Ngenggg. Berangkatlah kita menembus pekatnya malam. Beriringan saling bonceng membonceng menyusuri jalanan kota Jogja menuju pantai di Gunung Kidul. Tidak begitu sepi namun tidak ramai juga. Hampir pukul 10 kami beristirahat di indomaret di perempatan jalan wonosari. Belum terasa lelahnya. Setelah beristirahat sebentar kamipun melanjutkan perjala
nan, masih beriring-iringan. Karena aku di sebagai pembonceng, aku  berusaha menyemangati Retno dan membuatnya tidak ngantuk dan tetap konsen dengan shalawatan di sepanjang perjalanan. Seru sekali!
                Sampai di daerah yang tidak tahu namanya, ternyata ada razia dari polisi! Hmm terpaksa deh kami turun dan menunjukkan surat-surat penting, SIM dan STNK. Untungnya semuanya lengkap! Kami ditanyai dan diminta hati-hati oleh bapak polisi. Siap pak!
                Eh! Ada yang ketinggalan! Ternyata kak Rebi dan Kak Puyol tertinggal jauh karena ban motor mereka bocor. Wih untungnya masih ada tukang tambal ban yang mau buka dan menambal ban motor Kak Rebi. Alhamdulillah! Setelah pengecekan ban tiap motor, biar gaada yang bocor lagi kami pun segera melanjutkan perjalanan!
                Tidak sampai pukul 12 malam kami sudah sampai di Pantai Siung!!! Segeralah mendirikan tenda. Tentunya kak linggar dkk yang udah biasa berurusan dengan tenda dan pasak segera sedia membangun tempat berteduh. Hihi aku mah apa, Cuma bisa pegang pegang stick hitam yang disambung-sambung itu. yey finally tendanya jadi. Tapi, kami malah cerita diluar. Aku sih tidur, tapi ada beberapa yang ga tidur. Katanya takut ga bangun lagi.

                Paginya kita seru-seruan main air sama futsal pakai bola plastik. Setelah puas seneng-senengnya kita packing terus cao pulang deh! haha ga mutu banget ya cerita ini. Tapi, pengalaman ini sangat bermutu loh. Makasi banget buat divisi jalan-jalannya futsal putri UGM, Kak Rebi, Kak Linggar, Kak Puyol, Kak Retno, Kak Ayu, dan Tyas. Makasi buat teman-teman juga, kak Tika, Gekta, Agnes, Retno, Exis, Amalia, dan Nisa! Ga sabar main bareng kalian lagi!

Gunung Batur, Tiktok Satu Hari Saat Kuningan

Perjalanan ini sungguh perjalanan tak direncanakan. Pumpung libur dari internship, aku mengajak beberapa temanku di Bali untuk mendaki gunu...