Monday, September 25, 2017

Berwisata ke Jaboi, Sabang

Akhirnya, kaki ini berhasil menginjakan kaki di tanah terujung Indonesia. Dimana lagi kalau bukan Pulau Sabang. Pulau yang katanya Santai Banget, dan memang benar-benar santai banget. Enak banget buat jalan, apalagi jalan rame – rame keliling Sabang. Eh, ngomongin soal Sabang ga lengkap kalau ke Sabang ga ke Gampong Jaboi. Gampong Jaboi? Dimana tuh?

Jadi, Gampong Jaboi terletak di Kecamatan Sukajaya Kota Sabang. Dari pelabuhan Balohan hanya berjarak 7 km kearah selatan dan hanya butuh sekitar 15 menit naik kendaraan bermotor. Ada apa sih di Jaboi? Banyak banget hal yang bisa kamu lakuin di Gampong dengan manusia-manusia penghuninya yang ramah.

Ada beberapa spot wisata menarik yang bisa kamu kunjungi di Jaboi

·         Pemandian Air Panas
Badan pegal-pegal pasti enaknya berendam di air panas. Nah, di Jaboi ini terdapat sebuah kolam pemandian air panas yang asik banget. Di pemandian ini terdapat beberapa kolam, ada kolam untuk anak-anak dan ada kolam untuk orang dewasa. Di kolam ini pun tingat kepanasan air berbeda-beda. Ada yang panas banget ada yang hangat. Air panas itu berasal dari sumber mata air yang berasal dari gunung api di Jaboi.

pemandian air panas Jaboi
zhian dan lintang menikmati sore di pemandian air panas

Banyak manfaat yang dapat dirasakan ketika berendam di kolam ini. Menghilangkan pegal-pegal di badan, menyembuhkan penyakit kulit dan bahkan ada kabar bisa menyembuhkan penyakit stroke. Selain berendam, terdapat kafe yang menyediakan berbagai minuman ringan dan jajanan. Penjaga kafe disana merangkap sebagai penjaga kolam. Orangnya baik banget dan atraktif terhadap wisatawan yang datang. Kalua sempat berkunjung ke pemandian air panas, kamu akan beruntung bertemu dengan Ayah Mahdi dan Bang Yafidz. Sayangnya, pemandian air panas sedang direnovasi selama tiga bulan, dan akan kembali dioperasikan akhir tahun 2017 ini.

·         Pantai Batee Tamon
Ke Pulau gak lengkap kalau gak ke pantai. Di Jaboi, ada satu pantai menarik yang punya kekayaan bahari yang menawan. Pantai mana lagi kalau bukan Pantai Batee Tamon. Terletak di sebelah timur Gampong Jaboi, pantai ini bisa ditempuh dengan naik kendaraan bermotor, tapi hati-hati, jalan menuju pantai ini sangat curam. Setelah sampai di Batee Tamon atau pantai batu bertumpuk ini kamu bisa langsung nyemplung  dan menikmati indahnya terumbu karang dan ikan-ikan lucu. Ada ikan badut dan anemonnya juga loh. Kalau mau snorkeling bisa hubungi Bang Yusra di nomor ini atau bisa juga langsung datang ketemu pemuda local disana. Selain bisa snorkeling, biasanya ditepi pantai sering digunakan untuk bakar-bakar ikan hasil memancing bersama.
Salman bersnorkeling ceria di Batee Tamon

Ada ban dan pelampung juga


·         Gunung Api Jaboi
Wisata paling identic di Jaboi tentu saja Gunung Api Jaboi. Gunungnya ga tinggi-tinggi banget. Hanya butuh waktu 30menit untuk sampai ke kawah paling atas. Gunung Api Jaboi ini terdiri dari 4 kawah utama. Kawah pertama hanya perlu berjalan sekitar 10 menit dari pos pendakian. Kemudian kawah kedua juga hanya berjalan sekitar 10 – 15 menit. Untuk menuju kawah ketika dibutuhkan waktu yang sama pula. Untuk menuju kawah keempat membutuhkan waktu skitar 5 menit dari kawah ketika atau melalui jalur alternative dari kawah kedua sekitar 10- menit saja. Hati-hati ketika sudah berada di kawah keempat karena banyak batuan yang rapuh yang bisa mengakibatkan kamu jatuh ke lumpur panas. Dari atas ketinggian kamu bisa melihat lautan sabang dari kawah 4. Nah, untuk menuju kawah ini, kamu hanya perlu mengikuti jalan kea rah kenekeui dan berbelok kea rah kanan sesuai dengan petunjuk yang sudah disediakan. Bawa masker kalau kamu tidak kuat dengan bau belerang ya!

·         Pantai Taman Pasi
Kalau kamu mau nongkrong di tepi pantai sambal menikmati kopi khas Jaboi yang enak, kamu bisa mampir ke pantai taman pasi dan pesan kopi bikinan bang adun. Orang-orang menyebutnya kopi Pasi. Warung kopi ini buka dari pagi sampai malam sekali. Biasanya penduduk Jaboi mulai dari pemuda sampai tokoh masyaraknya ngopi disini. Selain ngopi, mereka juga berdiskusi mengenai banyak hal. Jadi, kalau kamu ingin menemui seseorang di Jaboi tapi gak tau rumahnya, datang saja ke Pasi dan ngopi disana!


·         Ujung Polair
Entah namanya ujung apa, tapi disini adalah bekas rumah polisi laut yang sudah ditinggalkan. Diujung ini terdapat mercusuar dan satu pohon besar yang aesthetic untuk spot berfoto. Waktu paling bagus ke ujung polair adalah pagi hari, karena sunrise muncul dengan indah, dan dapat dilihat dari atas mercusuar. Nongkrong sore-sore di bawah pohon juga asyik apalagi ditemani anak-anak kecil Jaboi yang lucu dan ramah sekali.

sunrise di ujung polair

·         Jaboi Point
Spot wisata baru di Jaboi tentu saja Jaboi Point. Tempat ini berada di atas bukit Jaboi. Berada di tengah hutan membuat spot ini agak sulit dijangkau. Tapi tenang saja! Para pemuda lokal Jaboi akan siap menemani kalian mendaki bukit dan melihat Jaboi dan ujung sabang dari atas ketinggian!
foto by Zhian
bersama pemuda dan pemudi Jaboi 


Jaboi adalah semangat, Jaboi punya hampir semua spot wisata yang menarik dan worth buat dikunjungi. Jadi, kalau kamu ke Sabang, jangan lupa mampir Jaboi ya !

Cheers,

Flora

Thursday, September 21, 2017

Mengabdi untuk Ujung Barat Indonesia

Aku bersyukur UGM memiliki program pengabdian masyarakat, dan “mewajibkan” semua mahasiswanya untuk terjun ke masyarakat dan mengimplementasikan ilmunya di masyarakat secara nyata. Memang awalnya mengecewakan dan bikin aku gak pengen KKN, apalagi dengan tim yang mungkin ga sesuara dengan kamu. 

                Tapi, setelah kamu terjun di masyarakat dan berbaur dengan kehidupan mereke,  kamu akan tau nikmatnya bersosialisasi dan nikmatnya mengabdi.

Apalagi ketika kamu ditempatkan di daerah yang menakjubkan, meskipun bukan daerah timur seperti mimpiku. Sabang adalah tempat yang luar biasa mematri beragam kenangan di hatiku. Aku tidak akan bisa melupakan sabang dan memori – memori dua bulan di sana. Apalagi di Gampong yang bikin hati ini merindu setiap hari, Gampong Jaboi. Berjuta bintang yang ku lihat tiap malam di Gampong ini adalah bintang – bintang yang aku rasa paling indah yang pernah ku lihat.

Pantai Pasi dari atas ketinggian
pict by Hamzah


Tidak hanya alam Jaboi yang aku rindu, masyarakat di Jaboi adalah masyarakat yang sangat ramah dan sangat membantu keberadaan kami selama di sana. Mereka mengaggap kami keluarga dan sudah seharusnya kami menganggap mereka keluarga juga. Nyatanya memang mereka adalah keluarga kedua bagiku.

                That’s the point of traveling that you can’t imagine. Travel teach you that someone in somewhere may be your family, may be your memory, even though you just temporary with them.

Ayah dan Bundaku di Jaboi sana, tidak ada kata yang indah selain, Flora rindu kalian, rindu dimasakin Bunda Hatta kerang dan udang goreng yang enak banget, miso buatan bunda juga enak dan bikin ketagihan. Rindu juga sama Ayah Hatta, tiap malam kalau aku main ke rumah pasti banyak advice  dari ayah yang benar-benar ngena di hati. Apalagi anak – anak bunda, Dessy, Askal dan Saskia, lucu dan sudah aku anggap adik-adikku sendiri.

Dessy yang setiap aku datang pasti bilang “Kak Flo, ayo mau ngemie ga,” dengan nada suaranya yang khas. Askal yang walaupun lebih suka Ndep sama Cae tapi tetap Kak Flo sayang. Saskia my chocochips girls, you always steal my heart!

Sama Dessy lon sayang

Kalau aku tuliskan di sini, rasanya tidak akan dapat mewakili apa yang aku rasakan tapi setidaknya pengingatku untuk tetap bersyukur bahwa aku memiliki mereka.

Begitu pula ayah pondokanku, Bang Yusra dan Kak Tia, maafkan Flora yang jarang dirumah dan malah sering keluyuran dan pulang malam. Tau sendiri, anakmu ini tidak bisa kalau hanya dirumah saja. Terima kasih sudah menampung kami para monster penghabis makanan di rumah kalian, makanan wakbi emang enak banget apalagi kalau Kak Tia lagi libur dan bikin kue, ah rindu!

Rindu juga godain Sulthan kecil yang pinter banget dan hobi minum obat, Salman yang always nginthilin aku kemana-mana, Salman apa kabar? Sehat – sehat ya. Belum lagi Fira yang selalu gangguin aku nelpon Nuha, yang hobinya ngajakin kak Flo jalan – jalan lihat Jaboi. Kapan kamu ke Jogja Fira? Kak Flo rindu ni.

Bang Yusra dan Keluarga

Fira lon sayang, kesayangan kak Flo

Banyak banget, bahkan mungkin hampir semua orang Jaboi itu bikin rindu. Apalagi pemuda – pemuda di Jaboi. Mereka lucu, kocak dan ga ada habisnya bikin ketawa. Hobinya nongkrong di Pasi (Warung Kopi dekat pantai Pasi), main game  ludo sama mini militia. Paling seneng kalau aku sama kabayan ajakin mereka jalan – jalan buat eksplore Sabang.

Rijal, adikku yang nyebelin dan suka ngatain pendek. Dasar anak sekolah, lulus dulu baru ngejekin aku yaa. Kamu gak ngerti betapa berjasanya dirimu telah mengantarku dan Kabayan kemana – mana, begitupula partnermu Bang Robot yang mukanya kaya Tengku Wisnu, lanjutkan bikin video – videonya ya bang. Aku tahu kamu berbakat, sukses kerjanya dan cepat nikah, yang akur sama abang-abang dan adik kau.

dari kiri : flora, lintang, cae, rijal bang bot, boma, tika

selesai acara penanaman mangrove

Aku tidak bisa menyebutkan satu-satu betapa mengenangnya kalian. Bang Pojan, abang aku yang cuek dan sok ganteng, kerja lah bang katanya mau kaya, nyusul Flora ke Jogja, sukses sama kafenya yang di Aceh ya bang. Bang Maput juga yang rajin kerjanya, yang akur sama Rijal.
Abang aku yang paling lucu ya bang dayat, tetap lucu ya bang, titip Reka ya bang, dia adikku yang paling baik juga. Bang Adun juga, mau dong dibikinin kopi lagi sama bang Adun. Rinduuuu bang Adun!

Banyaaaak banget warga Jaboi yang ga bakal aku lupa, selama dua bulan ini banyak memberiku pelajaran dan kenangan-kenangan yang ga terlupakan! Ayah Madi dan bang Yafidz, ciye kolam air panasnya lagi diperbaiki, semoga semakin ramai ya bang! Tetap belajar bahasa inggrisnya, aku senang banget bisa berbagi ilmu dengan kalian!

Bang Marwan, Bang Isa, Ayah Amin, Ayah Mahdi dan Mamak, Bang Juki, Bang Mudi dan Kak Eli, Mamak Cut Intan! How I miss you, Mak!! Kangen bakpia nya yang enak bangettt, sayang, aku gak bisa bawa ke Jogja L. Bang Mudi dan Bu Maulida, bakpia kalian juga enakkk banget, terima kasih uda ngajak Flora jalan-jalan ya. Musamir, Farid Junior, Bang ki, Bang rizal, Bang alam.

pemuda  pemudi Jaboi

keluarg Jaboi

Pak Muzakir, terbaiklah bapak, aku gabisa lagi mengatakan betapa berjasanya bapak untuk masyarakat Jaboi.  You deserve kok pak buat Jaboi lagi. Memang banyak pandangan yang berbeda, tapi bapak tetap panutan!

Jaboi tidak hanya memberi kenangan, jaboi memberiku pelajaran berharga tentang kehidupan, tentang bermasyarakat, tentang cinta, tentang kebebasan, tentang politik, tentang berbagi dan tentang manusia.

                KKN menurutku adalah waktu yang tepat buat ngajarin kita, cara memanusiakan manusia.

Dan bagiku, meskipun hanya dua bulan, aku berharap apa yang kami berikan untuk Jaboi dapat dijaga dan dilanjutkan. Aku percaya kalian bisa, kalian mampu, dan kalian berhak untuk maju.


*Tulisan ini aku dedikasikan untuk warga Jaboi, khususnya orang-orang yang pernah sangat dekat dan masih dekat denganku. Mungkin sekarang aku tidak lagi disana, tapi percayalah suatu saat aku akan pulang.

Cheers,

Flora

Sunday, February 5, 2017

Surabaya on My Perspective

On the side of Kanjeran Beach

Almost four days I stayed at Surabaya, the capital city of East Java. On my first day I stayed at The Life Hotels, Only a half hours from Surabaya Gubeng station. Perhaps, I’m just ‘a village girl’ lol, I really suprised seeing so many skyscrappers around me. That’s feel like “Oh My God, this town so fantastic like in a movie! I never dream to come here, but ya I’m here.” On my way to hotel, a gojek driver asked me, what’s the difference between Surabaya and Jogja? And yah I said like I seen before, Surabaya has so many skyscrapper and larger road than Jogja. It was 3 pm so I didn’t see traffic jam at that time.  After I had been arriving at Hotel, I got my room at 7th floor. Lucky me! I could saw the city over here. The hotel where I stayed, located in the middle of city so it was easy to move.
Unfortunately, I only stayed there once night. It doesn’t matter,bcause I prefer to stayed on my friends dorm. So, at second day, after I have checked out, I tried to found my friends dorm. Before gone, my boyfriend who stayed in Surabaya kindly borrowed me a motorcycle. Wuhuu lucky me again! (he had to worked so he couldn’t accompany me L ).
Trust me, Google maps is a worth application which your phone should have!!! Cause it helps me a lot! Almost one hours I have been searching my friends dorm. And being calm was a best choice, my friends dorm was soooooo far away for me. The sun shone so bright above my head, so I decided to took a rest and bought a food. Soto lamongan was my favorite and I found one in the side of road.


First weird things I found in Surabaya was the food. Probably this was usual for you guys as a local people in there, but for me it made my tongue tasted some strong thick soup from the Soto. It was different for me. And yups the price a little bit expensive tho.
Okay, shortly, I found my friends dorm. Ikha welcomed me warmly, her dorm located near wonokromo station, and it was so far from my hotel before.  I spend a half day just layed on her bed. You had to know that Surabaya was a hot city (it means the sun shone firmly, there was no cloud above the skies!) it can made your skin more darker than before, lol.   
Time to picked up my boyfriend at his office hahaha. Before gone, I have been searching his office, that’s right! Google maps helped me absolutely! Needed almost 45 minutes from wonokromo to gunung sari area (my bofriend’s office). I left Ikha’s dorm before the rain comes. A fact that I don’t know before, even the road was large, traffic jam happen in every street where I throught.
Suddenly the rain came and I had to use my raincoat. Unfortunatelyyyy guys, a much water flooded my way. That was disgusting, a water like chocolate milk flooded with noisy smell. I don’t like that actually.  
Okayh, Let me told you about my third day. I thought that was my first experience to travel alone, lol. I stared my trip to took Nuha at his office on Villa Bukit Mas, and you know guys, that place located on the west side of Surabaya and I was staying on the South side of Surabaya. Oke! Shortly, I’ve took Nuha and timed to me to continue my trip. My motorcycle rode fastly to Kanjeran Beach. It located on the East side of Surabaya, man! Such a struggle! But enjoyed a trip was my passion hahaa! I have rode almost one hours used google maps as always. Once things you should know when you drive ur vehicle was you should to obey the traffic sign. The weird things tho was I had to turn around when I found a intersection. You should do these! It a must boy! And for you who rode motorcycle don’t tried to pass th flyover or you gonna met a man who dressed green coat. I hated them actually!
After one hours on the road I found the Kanjeran beach which known dragon statue as their landmark. But poor me! It closed with Imlek so that atraction not opened for public L it’s okay I still enjoy the new Surabaya bridges! Was so fun over there!
Surabaya Bridge 
view from Surabaya Bridge

I decided to continue my trip to the Northeast of Surabaya, tried a longer bridge which connected Surabaya and Madura’s Island. People called it ‘Suramadu Bridge’.
And fyi, sometimes google maps doesn’t work better. It will brought you to strange area. Like on my way to Suramadu, I’ve been passed a slum area, I’ve seen a river with so many rubbish and had a green colour, you knowed guys, that was so smellll smell bad, bad for your nose!!! I was little bit scared, but I still keeped on my way. Ah finally I throught the longest bridge in Java and stand on Madura’s Island. ALONE! That was cool man! Feel the air blow your body hardly on the bridge. Wuhuuuw fantastic!!!
Suramadu Bridge

Not longer I was there, I directly went to my friends dorm in the North side of Surabaya, perak barat district. She was my best friend from high school and got her internship on there. After I met her, I continue to picked up my boyfriend at his office! Yah, that days I around Surabaya from south to west, west to east, east to north and back again to south! Was really tired day! However, that was great experience I’ve ever done! See ya guys on my next Journey!
Salute,
FloraSakti
  

Friday, February 3, 2017

A Journey to Surabaya with Economic Train


Do you ever expected to travel alone? Or went everywhere only with your instuition and you are  ready to take risks? Don’t care about what happen with you in your journey? Yes, I ever dreamt about it and I made that dream come true last week! In the end of my holiday, I decided to go to Surabaya by my own self! I don’t know why I choosed Surabaya to be my travel destination. But in my mind, Surabaya was an amazing place to be visited and I tried to see the capital city of the East Java. When I talked to my friends about my plan, they just laught and said “Surabaya don’t have any tourism spot, it only has mall and some skyscrapper! What do you search in there?”. So what’s wrong? I still can explore many spot in the suburb and improve my sense of traveling, lol.

A Beautiful scenery from my train!


                I prepared my trip two weeks before. Remember that I only had a little cost, so choosed economic train as my transportation to took me there was a good choice. The first thing you should do are bought the ticket, I bought my online ticket on PT. Kereta Api Indonesia But if you wanna buy on the spot, you just go to the station and buy them on the ticket counter one or two hours before the train comes. I prefer to bought online because I was afraid the ticket finished.

                There are many train will bring you to Surabaya from Jogja. I choosed Logawa’s Train. The Logawa’s Train is a train which began their route from Purwakarta and stop at Jogja in Yogyakarta station and Lempuyangan station. So, I took Lempuyangan station to stared my Journey! Honestly, that was my first time I went to long away place with Train! And I’m really excited with that!  And yeah, I only spend Rp 74.000,- cost from Lempuyangan station to Surabaya Gubeng station.

Logawa's Train


                The train departed on 8.55 so I had to be in station one hours before. Oh don’t forget to changed your online ticket codes with boarding pass ticket! That was important! And brought your identity card (like KTP, SIM, Paspord, etc,). You needed them when you entered train. And it will be checked in the train during the way.

The route and schedule of Logawa's Train (got it from : http://jadwalkeretaapijakarta.blogspot.co.id/)
                Economic train not really bad for me. It had an AC and a clean toilet. The difference between Bussines and economic train probably in comfortable seat. In the economic classes, they provided a long horizontal seat, it can be used by one till three passenger. There are 106 seat/carriage. The seat consist of A B C D E category. And I sat at 2B’s seat. Beside your seat there are two electrical plug so you can charger your phone (that’s why I love travel with train). Oh yasss, the steward will offer you some food or drink. You won’t feel hungry in train!

Little Bit crowded but I still enjoyed!

                At 14.53 I had arrived in Surabaya Gubeng station. It took almost six hours trip inside train from Lempuyangan station, Yogyakarta to Surabaya Gubeng station. But, you should know that was an amazing journey for me!! Beside I used train for my transportation, this journey is my first time I did solo traveling! I do really sophisticated with the service of PT kereta api Indonesia. Of course, I’m not doubt to use train for my transportation!!

Salute,

FloraSakti 

Tuesday, January 31, 2017

Cebar Cebur di Karst Tubing Surobayan Sedayu


“Mana ada wisata alam yang memacu adrenalin tapi tidak jauh-jauh dari kota Jogja?” Banyak orang mungkin tidak percaya dengan adanya wisata alam keren di dekat kota Jogja. Tidak selalu tentang budaya, sekarang Jogja memiliki banyak wisata alam yang menantang untuk dijamah.
                Bukan, bukan cave tubing atau susur gua dan tidak hanya susur sungai biasa. Karst Tubing Sedayu adalah wisata susur sungai yang dinding – dinding sungainya berasal dari batuan kapur atau dapat disebut karst. Dengan menggunakan pelampung berupa ban dan life jacket, wisatawan akan menyusuri sungai batu kapur di daerah Sedayu. Hebatnya lagi, wisata air ini hanya berjarak kurang lebih 19 kilometer dari kota Jogja.
                Bulan September lalu, saya dan ketiga teman kelana wisata memutuskan untuk memacu adrenalin kami dengan mencoba karst tubing ini. Bunderan Universitas Gadjah Mada menjadi titik kumpul kami sebelum melajukan sepeda motor menuju daerah Sedayu. Setelah semuanya berkumpul, berangkatlah kami berempat. Hanya membutuhkan waktu tidak kurang dari setengah jam melalui Ringroad Barat menuju jalan Wates, tibalah kami di Desa Argomulyo Kecamatan Sedayu, lokasi sungai berbatuan kapur tersebut. Tidak perlu takut tersesat atau kesasar sampai Purworejo, di pinggir jalan sudah ada plang penunjuk arahnya kok. Oh iya, Karst Tubing Sedayu ini juga bisa dicari di aplikasi Maps di ponselmu.
                Sampai di pintu masuk, kami disambut oleh baliho besar dengan foto orang – orang berpelampung ban yang nampak ceria. Kami segera meletakan sepeda motor di tempat parkir yang telah disediakan. Tempat parkirnya teduh banget dengan pohon – pohon rindang di sekelilingnya. Ada beberapa gazebo tempat bersantai yang sudah kelihatan dari tempat parkir. Bergegaslah kami menuju loket masuk. Dengan senyum yang ramah, mbak – mbak penjaga loket menawarkan paket karst tubing yang disediakan. Ada dua paket yang ditawarkan, paket pertama yaitu trek karst tubing dengan panjang sungai 900 meter dan membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 30 menit. Paket pertama ini dikenakan biaya Rp 30.000,-/pax. Paket yang kedua adalah paket karst tubing dengan panjang sungai sejauh 1,4 kilometer dan membutuhkan waktu tempuh sekitar 50 menit, paket ini dikenakan biaya sebesar Rp 40.000,-/pax. Terhitung murah untuk olahraga air bernuansa alam yang dekat dengan kota Jogja.

foto oleh mas Sugeng, fotografer karst tubing

                Kami memutuskan menggunakan paket karst tubing yang kedua karena lebih panjang sungai yang disusuri akan semakin memacu adrenalin. Tidak lupa kami juga menggunakan jasa fotografi yang juga ditawarkan di sana. Hanya mengeluarkan kocek Rp 50.000,-/grup, kami sudah mendapatkan foto-foto berkualitas. Tidak hanya foto, jasa videografi juga tersedia loh, hanya Rp 75.000,-/grup dan liburanmu di karst tubing akan terdokumentasikan dengan luar biasa. Nah, satu grup disini maksimal 15 orang untuk sekali jalan. Beruntunglah kami hanya berempat dan lebih beruntung lagi, baru kami berempat yang datang esok pagi itu.
                Setelah bertransaksi ini dan itu dengan mbak resepsionis, kami diantar menuju titik keberangkatan. Di sana sudah tersedia berbagai perlengkapan keamanan dan bertumpuk – tumpuk ban dalam yang siap untuk digunakan. Tetiba kami disapa mas – mas paruh baya yang tidak lain tidak bukan adalah mas pemandu kami selama karst tubing. Beliau bernama mas Anto, pemuda lokal yang siap memandu kami menjelajah karst tubing Sedayu.

                “Sebelum memulai petualang kita, mari berdoa sesuai keyakinan masing – masing dan setelah itu akan saya berikan penjelasan singkat untuk memulai karst tubing di sini,” jelas mas Anto penuh semangat. Setelah berdoa dan briefing singkat, kami dipandu untuk berjalan ke lokasi nyemplung – nyemplung sekitar 10 menit. Nah itulah keistimewaan paket kedua. Berjalan kaki melewati rumah penduduk dan hamparan sawah di kiri jalan sungguh sangat mengasyikan. Selain pemanasan sebelum terjun di air, warga lokal yang kami temui juga tersenyum ramah sekali.

                Sampailah kami di titik pertama karst tubing. Setelah semua di air yang dingin dan segaaar, mas Anto memandu kami menuju rute tirai akar. Di sini, kami menyusuri sungai dengan akar – akar gantung yang indah yang bergelantungan di atas kami. Tangan dan kaki diajak untuk terus bergerak demi menjaga keseimbangan dan agar tetap mengikuti arus. Trek berikutnya adalah aliran datar, di trek ini kami diwajibkan menggunakan seluruh tenaga untuk balapan dengan teman lainnya. Setelah ngos – ngosan saling berkejaran kami dipandu menuju trek berikutnya yaitu luncuran. Tidak terlalu tinggi, hanya sekitar satu meter kami harus meluncur perorangan. Walaupun tidak tinggi, cukup membuat jantung berdebaran loh. Tapi tenang, para pemandu siap menjaga kok.


foto oleh mas Sugeng, fotografer karst tubing
foto oleh mas Sugeng, fotografer karst tubing

Masih ada beberapa trek lagi yang harus dilalui. Di trek dinding pantul, kita akan dipantul – pantulkan oleh dinding karst yang cukup sempit sampai bertemu dengan trek leher botol. Di trek leher botol arusnya tidak terlalu deras dan spot yang bagus untuk berfoto. Tentunya fotografer kami sudah siap dengan kameranya untuk mengabadikan petualangan kami. Di trek berikutnya yaitu lubuk kedung, kami bisa meloncat bebas dari ketinggian satu setengah meter dan terjun di air yang kedalamannya hampir tiga meter. Mendebarkan tapi juga kecanduan loh. Nah trek terakhir adalah arus liar, air sungai yang deras akan membawa kami menuju titik pemberhentian. Petualangan yang menyenangkan untuk mengusir jenuh dan penatnya aktivitas di Jogja.

                Setelah bersih – bersih badan, kami disuguhi makanan – makanan lokal yang enak banget. Pisang goreng, ketela rebus, ketela goreng dan teh panas membuat kami segar setelah tangan dan kaki pegal bermain air. Wisata air baru yang tidak akan menyesal untuk tidak mengunjunginya lagi.

Dimanapun kalian traveling, keep the place clean ya guyss!

Salute,
FloraSakti




Thursday, November 10, 2016

Karimun Jawa, Surga Tersembunyi di Jawa

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki berjuta potensi wisata yang indah dan berbeda dari negara-negara lain. Apalagi potensi wisata alamnya, tidak ada duanya mulai dari ujung barat sampai timur. Makin banyak potensi-potensi wisata yang dikembangkan oleh masyarakat lokalnya menjadi daerah tujuan wisata. Tapi, banyaknya daerah wisata yang dibangun harus pula diiringi dengan pembangunan infrastruktur pendukung yang tepat dan sesuai.
Pembangunan pariwisata di Indonesia harusnya memenuhi teori 4A (Cooper,2005) yaitu aksesibiltas, atraksi, amenitas dan ancillary Teori 4A dalam pariwisata. Biasanya daerah-daerah tujuan wisata lemah dalam pengembangan amenitas atau fasilitas pendukungnya.
Nah, saya mengunjungi sepotong surga tersembunyi yang terlupakan beberapa bulan lalu. Pulau kecil di utara pulau Jawa, dengan penduduk mayoritas adalah nelayan yang menggantungkan hidupnya di laut lepas. Untuk menuju pulau tersebut membutuhkan waktu hampir lima jam perjalanan laut dengan kapal siginjai dari pelabuhan kartini, Jepara. Ya! Pulau itu Karimun Jawa, Surga kecil yang tersembunyi.

Kapal Siginjai
Dokumentasi Pribadi


Pantai Pancuran
Dokumentasi Pribadi

Pantai Legoon Lele
Dokumentasi Pribadi

Senja di Karimun
Dokumentasi Pribadi

Empat hari tiga malam rasanya tak cukup puas menikmati indahnya pulau Karimun Jawa. Banyaknya pulau-pulau indah lain yang mengelilingi Pulau Karimun Jawa juga menjadi nilai tambah pariwisata di Kepulauan Karimun Jawa. Berbagai potensi wisata alam dikembangkan dan dipromosikan. Pantai-pantai yang tadinya masih suci dibuka untuk wisatawan. Bukit-bukit mulai ditelusuri dan dirombak menjadi spot melihat matahari terbenam maupun matahari terbit. Masyarakat mulai tak asing dengan pariwisata, masyarakat mulai tidak kaget dengan wisatawan yang tiba-tiba memasuki daerah mereka. 

Bukit Cinta
Dokumentasi Pribadi

Matahari terbenam di Bukit Cinta
Dokumentasi Pribadi

Tidak diragukan lagi Karimun Jawa memiliki pantai-pantai dengan pasir putih yang indah dan terumbu karang yang bagus dan tidak kalah dengan pantai di Indonesia timur. Menjadi salah satu dari surga tersembunyi Indonesia dalam bidang pariwisata membuat Karimun terus berbenah.(surga tersembunyi Karimun Jawa) Tidak hanya wisata lautnya yang menarik untuk dieksplor. Wisata Budaya dan wisata yang berada di pulau Karimun juga sangat bagus untuk dikunjungi. Saya sempat mengunjungi hutan mangrove di perbatasan Pulau Karimun Jawa dengan Pulau Kemujan. Tidak hanya itu, sebelum menuju pantai batu pengantin, saya melewati sebuah perkampungan penduduk bugis dengan rumah adat mereka yang berjajar rapi. Sungguh menakjubkan menemukan keunikan seperti itu di Pulau yang masih berada di wilayah Jawa. Sayang seribu sayang, akses jalan di Pulau Karimun Jawa masih kurang, karena ada sebagian jalan-jalan yang berlubang dan bahkan masih belum bersemen, atau hanya pasir saja. Padahal, banyak sekali atraksi wisata terutama pantai yang tersembunyi, dan sangat sulit untuk mencapai pantai-pantai tersembunyi tersebut.
Sebagai pulau yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Jawa, Karimun Jawa memang menjadi spot wisata favorit untuk melepaskan penat dan memiliki pengalaman baru. Masih dalam topik aksesibilitas, akses menuju Karimun Jawa ada tiga cara, yang pertama adalah menggunakan kapal siginjai dengan waktu tempuh selama lima jam perjalanan. Kemudian menggunakan kapal express dengan waktu hanya tiga jam perjalanan dan menggunakan pesawat kecil dari bandara Ahmad Yani di Semarang. Namun sayang, pengoperasian bandara di Pulau Karimun Jawa sendiri masih sangat kurang dan terbatas.

Menanam Mangrove
Dokumentasi Pribadi

Jalan di Hutan Mangrove
Dokumentasi Pribadi

Apabila akses yang ada sudah bisa dioptimalkan dengan baik, entah itu akses laut maupun udara, Karimun Jawa akan menjadi destinasi tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi, terutama untuk wisatawan mancanegara. Selain itu, ada al lain dalam pengembangan pariwisata di Karimun Jawa, sebagai suatu destinasi wisata bahari dengan kekayaan alam lautnya, masyarakat Karimun Jawa perlu mendapat sosialisasi maupun penyuluhan baik untuk nelayan maupun pemandu lokal. Tanpa sosisalisasi yang tepat, kekayaan alam laut akan mubazir dan tidak tahu bagaimana cara menjaganya. Karena terumbu karang membutuhkan waktu 1 tahun untuk tumbuh sekitar 1 cm dan butuh waktu lebih dari 10 tahun untuk membentuk satu terumbu karang yang indah. Sayang bila terumbu-terumbu itu rusak akibat ulah wisatawan atau malah masyarakat lokalnya sendiri.

Snorkeling
Dokumentasi Pribadi

Terumbu Karang di Karimun
Dokumentasi Pribadi

Pemandangan bawah laut Karimun Jawa
Dokumentais Pribadi

Tidak hanya itu, kebersihan pantai juga menjadi prioritas dalam pengembangan pariwisata di Karimun Jawa. Banyak sekali sampah yang mengendap di sekitaran pantai di Pulau Karimun. Sampah itu berasal dari sampah yang dibawa oleh wisatawan dan banyak juga sampah yang berasal dari Pulau jawa seperti dari Semarang atau Jepara itu sendiri. Untungnya ada beberapa komunitas yang mendedikasikan dirinya untuk sekedar membersihkan sampah-sampah tersebut.

Membersihkan sampah di Karimun Jawa
Dokumentasi Pribadi

Pembangunan pariwisata di Karimun Jawa sangat perlu terutama dengan sosialisasi secara langsung kepada masyarakat lokal Karimun Jawa tentang pentingnya sustainable tourism dalam pariwisata. 

Sunday, October 30, 2016

Menggenggam Mentari Pagi di Punthuk Setumbu Borobudur

Pagi yang sejuk dengan bau dedaunan dan tanah pedesaan di daerah Borobudur membuat saya betah berlama-lama memejamkan mata dalam hangatnya selimut. Udara dingin yang menyusup di celah-celah jendela homestay seraya mendukung untuk tidak keluar dari kamar. Terngiang cerita orang tentang indahnya matahari terbit tetap tidak membuat saya beranjak dari kasur berselimut putih ini. Tapi tunggu, matahari terbit di daerah Borobudur adalah fenomena yang berbeda dan istimewa. Hal itulah yang membuat saya datang ke Borobudur dan bangun pagi buta ditemani udara dingin yang menusuk-nusuk pagi ini.
Suasana pedesaan masih sunyi senyap. Saya langkahkan kaki keluar dari kamar dan bertemu Pak Yudi, pemilik homestay di tempat saya menginap. Sebelumnya beliau memang telah berjanji untuk menemani saya menyaksikan indahnya matahari terbit di Punthuk Setumbu atau lebih dikenal dengan Borobudur Nirwana Sunrise.
                “Selamat pagi, sudah siap lihat sunrise terbaik di Borobudur, dek?” sapa Pak Yudi penuh semangat sembari menyodorkan teh manis panas dan pisang goreng yang masih hangat. “Dimakan dulu sebelum berangkat.”
                Perjalanan dari homestay saya di desa wisata Candirejo menuju Punthuk Setumbu hanya membutuhkan waktu 15 menit karena jaraknya hanya sekitar 7 kilometer. Bagi teman-teman yang berangkat dari Yogyakarta saya sarankan berangkat lebih pagi lagi karena membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan. Letak Punthuk Setumbu sangat mudah untuk diakses. Tinggal mengikuti petunjuk jalan yang berada di pinggir jalan atau menggunakan aplikasi maps di smartphone. Oh iya, bagi yang masih takut tersesat, masyarakat lokal daerah Borobudur biasanya siap mengantar, mereka biasa ditemui di depan pintu masuk Taman Wisata Candi Borobudur. Dalam perjalanan, kami melewati desa Borobudur – Ngaran Bawah – Bumi segoro – Kretek – Kurahan.
                 Punthuk Setumbu sendiri berada di dusun Kurahan desa Karagrejo kecamatan Borobudur. Sekitar 4 kilometer dari Candi Borobudur. Sampailah kami di titik pemberhentian menuju puncak Punthuk Setumbu. Parkiran untuk mobil dan motor lumayan luas untuk destinasi yang berada di wilayah perkampungan penduduk. Karena kami berangkat sebelum adzan subuh, kami menyempatkan untuk beribadah subuh terlebih dahulu di mushola yang sudah disediakan. Kamar mandi dan toiletnya pun tersedia dan bersih.

                Setelah menunaikan Sholat kami berdua segera menuju tempat penjulan tiket. Tiket masuk Punthuk Setumbu dibagi menjadi dua golongan, untuk wisatawan domestik Rp 15.000,-/per orang dan  untuk wisatawan mancanegara Rp 30.000,-/per orang. Harga yang cukup murah untuk keindahan yang tidak bisa disaksikan ditempat lain. Dua tiket sudah berada digenggaman, kami siap mendaki untuk menuju puncak Punthuk Setumbu.
                Dibutuhkan waktu sekitar 15 menit mendaki anak tangga tanah yang sengaja dibuat untuk memudahkan wisatawan mendaki bukit yang tingginya 400 meter ini. Langit masih gelap dan suara serangga masih terdengar mengalun menemani sinar bohlam lampu yang sudah dipasang di tiap titik pendakian. Udara masih dingin, jangan lupa untuk mengenakan pakaian tebal agar tidak kedinginan.

anak tangga di Punthuk Setumbu
sumber: dokumentasi pribadi

                Akhirnya, sampai juga di puncak Punthuk Setumbu. Terdapat beberapa bangku dari bambu untuk beristirahat sembari menunggu sunrise datang. Pembatas bambu juga dipasang dipinggir jurang untuk perlindungan wisatawan. Suasana saat itu sudah lumayan ramai oleh wisatawan. 

wisatawan asyik mendokumentasikan sunrise
sumber : dokumentasi pribadi

      Semburat orange mulai nampak perlahan dari arah timur. Matahari perlahan terbit dengan bangganya diantara gunung merbabu dan gunung merapi. Tampak Candi Borobudur dengan megah menemani keindahan matahari pagi itu. Candi Borobudur tambak berada di rawa-rawa dengan kabut putih menyelimutinya. Sungguh, pemandangan yang luar biasa indah dan hanya bisa ditemui di Borobudur, terutama di Punthuk Setumbu.

semburat matahari yang perlahan muncul
(dokumentasi pribadi)

matahari muncul perlahan
(dokumentasi pribadi)

tampak Candi Borobudur seperti di rawa-rawa
(dokumentasi pribadi)

pesona Jawa Tengah!
(dokumentasi pribadi)

menggegam matahari
(dokumentasi pribadi)

                Tidak hanya bagian timur dari Punthuk Setumbu yang menarik, ketika kalian berjalan menuju sisi selatan, pemandangan bukit menoreh dan pedesaan-pedesaan dibawahnya yang nampak kecil serta diselimuti kabut menjadi nilai tambah tersendiri untuk mata kami.

pemandangan sisi lain punthuk setumbu
(dokumentasi pribadi)

Indahnya Punthuk Setumbu
(dokumentasi pribadi)

                Sebelum turun, kami menyempatkan menyeruput secangkir kopi di warung yang telah tersedia sambil bercengkerama dengan pemilik warung.
                “Dulu, bukit ini hanya bukit biasa, masyarakat sekitar bekerja sebagai petani. Tapi, sejak dibukanya Punthuk Setumbu tahun 2010an, kehidupan ekonomi masyarakat mulai terbantu. Banyak yang kerja seperti saya jualan makanan dan minuman, tukang parkir, dan pengelolaan Punthuk Setumbu sendiri dikelola oleh masyarakat kami sendiri. Banyak wisatawan asing yang senang mengunjungi Punthuk Setumbu,” Cerita pemilik warung dengan senangnya.

saya sedang mengambil moment berharga
(dokumentasi pribadi)

                 Satu lagi wisata yang menarik dari Magelang, Jawa Tengah yang sudah berhasil membuat mata saya terkagum-kagum. Tidak hanya Candi Borobudur yang menjadi ikon Magelang, banyak sekali obyek wisata lain yang menarik untuk dikunjungi dan dieksplor di Jawa Tengah. Mari kembangkan wisata Jawa Tengah menuju wisata yang berkelanjutan! Karena Pesona Jawa Tengah tidak akan pernah ada matinya. Alam, budaya, masyarakat dan wisata minat khusus lainnya secara berkesinambungan mendukung Pesona wisata Jawa Tengah.


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)

Gunung Batur, Tiktok Satu Hari Saat Kuningan

Perjalanan ini sungguh perjalanan tak direncanakan. Pumpung libur dari internship, aku mengajak beberapa temanku di Bali untuk mendaki gunu...