Friday, February 3, 2017

A Journey to Surabaya with Economic Train


Do you ever expected to travel alone? Or went everywhere only with your instuition and you are  ready to take risks? Don’t care about what happen with you in your journey? Yes, I ever dreamt about it and I made that dream come true last week! In the end of my holiday, I decided to go to Surabaya by my own self! I don’t know why I choosed Surabaya to be my travel destination. But in my mind, Surabaya was an amazing place to be visited and I tried to see the capital city of the East Java. When I talked to my friends about my plan, they just laught and said “Surabaya don’t have any tourism spot, it only has mall and some skyscrapper! What do you search in there?”. So what’s wrong? I still can explore many spot in the suburb and improve my sense of traveling, lol.

A Beautiful scenery from my train!


                I prepared my trip two weeks before. Remember that I only had a little cost, so choosed economic train as my transportation to took me there was a good choice. The first thing you should do are bought the ticket, I bought my online ticket on PT. Kereta Api Indonesia But if you wanna buy on the spot, you just go to the station and buy them on the ticket counter one or two hours before the train comes. I prefer to bought online because I was afraid the ticket finished.

                There are many train will bring you to Surabaya from Jogja. I choosed Logawa’s Train. The Logawa’s Train is a train which began their route from Purwakarta and stop at Jogja in Yogyakarta station and Lempuyangan station. So, I took Lempuyangan station to stared my Journey! Honestly, that was my first time I went to long away place with Train! And I’m really excited with that!  And yeah, I only spend Rp 74.000,- cost from Lempuyangan station to Surabaya Gubeng station.

Logawa's Train


                The train departed on 8.55 so I had to be in station one hours before. Oh don’t forget to changed your online ticket codes with boarding pass ticket! That was important! And brought your identity card (like KTP, SIM, Paspord, etc,). You needed them when you entered train. And it will be checked in the train during the way.

The route and schedule of Logawa's Train (got it from : http://jadwalkeretaapijakarta.blogspot.co.id/)
                Economic train not really bad for me. It had an AC and a clean toilet. The difference between Bussines and economic train probably in comfortable seat. In the economic classes, they provided a long horizontal seat, it can be used by one till three passenger. There are 106 seat/carriage. The seat consist of A B C D E category. And I sat at 2B’s seat. Beside your seat there are two electrical plug so you can charger your phone (that’s why I love travel with train). Oh yasss, the steward will offer you some food or drink. You won’t feel hungry in train!

Little Bit crowded but I still enjoyed!

                At 14.53 I had arrived in Surabaya Gubeng station. It took almost six hours trip inside train from Lempuyangan station, Yogyakarta to Surabaya Gubeng station. But, you should know that was an amazing journey for me!! Beside I used train for my transportation, this journey is my first time I did solo traveling! I do really sophisticated with the service of PT kereta api Indonesia. Of course, I’m not doubt to use train for my transportation!!

Salute,

FloraSakti 

Tuesday, January 31, 2017

Cebar Cebur di Karst Tubing Surobayan Sedayu


“Mana ada wisata alam yang memacu adrenalin tapi tidak jauh-jauh dari kota Jogja?” Banyak orang mungkin tidak percaya dengan adanya wisata alam keren di dekat kota Jogja. Tidak selalu tentang budaya, sekarang Jogja memiliki banyak wisata alam yang menantang untuk dijamah.
                Bukan, bukan cave tubing atau susur gua dan tidak hanya susur sungai biasa. Karst Tubing Sedayu adalah wisata susur sungai yang dinding – dinding sungainya berasal dari batuan kapur atau dapat disebut karst. Dengan menggunakan pelampung berupa ban dan life jacket, wisatawan akan menyusuri sungai batu kapur di daerah Sedayu. Hebatnya lagi, wisata air ini hanya berjarak kurang lebih 19 kilometer dari kota Jogja.
                Bulan September lalu, saya dan ketiga teman kelana wisata memutuskan untuk memacu adrenalin kami dengan mencoba karst tubing ini. Bunderan Universitas Gadjah Mada menjadi titik kumpul kami sebelum melajukan sepeda motor menuju daerah Sedayu. Setelah semuanya berkumpul, berangkatlah kami berempat. Hanya membutuhkan waktu tidak kurang dari setengah jam melalui Ringroad Barat menuju jalan Wates, tibalah kami di Desa Argomulyo Kecamatan Sedayu, lokasi sungai berbatuan kapur tersebut. Tidak perlu takut tersesat atau kesasar sampai Purworejo, di pinggir jalan sudah ada plang penunjuk arahnya kok. Oh iya, Karst Tubing Sedayu ini juga bisa dicari di aplikasi Maps di ponselmu.
                Sampai di pintu masuk, kami disambut oleh baliho besar dengan foto orang – orang berpelampung ban yang nampak ceria. Kami segera meletakan sepeda motor di tempat parkir yang telah disediakan. Tempat parkirnya teduh banget dengan pohon – pohon rindang di sekelilingnya. Ada beberapa gazebo tempat bersantai yang sudah kelihatan dari tempat parkir. Bergegaslah kami menuju loket masuk. Dengan senyum yang ramah, mbak – mbak penjaga loket menawarkan paket karst tubing yang disediakan. Ada dua paket yang ditawarkan, paket pertama yaitu trek karst tubing dengan panjang sungai 900 meter dan membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 30 menit. Paket pertama ini dikenakan biaya Rp 30.000,-/pax. Paket yang kedua adalah paket karst tubing dengan panjang sungai sejauh 1,4 kilometer dan membutuhkan waktu tempuh sekitar 50 menit, paket ini dikenakan biaya sebesar Rp 40.000,-/pax. Terhitung murah untuk olahraga air bernuansa alam yang dekat dengan kota Jogja.

foto oleh mas Sugeng, fotografer karst tubing

                Kami memutuskan menggunakan paket karst tubing yang kedua karena lebih panjang sungai yang disusuri akan semakin memacu adrenalin. Tidak lupa kami juga menggunakan jasa fotografi yang juga ditawarkan di sana. Hanya mengeluarkan kocek Rp 50.000,-/grup, kami sudah mendapatkan foto-foto berkualitas. Tidak hanya foto, jasa videografi juga tersedia loh, hanya Rp 75.000,-/grup dan liburanmu di karst tubing akan terdokumentasikan dengan luar biasa. Nah, satu grup disini maksimal 15 orang untuk sekali jalan. Beruntunglah kami hanya berempat dan lebih beruntung lagi, baru kami berempat yang datang esok pagi itu.
                Setelah bertransaksi ini dan itu dengan mbak resepsionis, kami diantar menuju titik keberangkatan. Di sana sudah tersedia berbagai perlengkapan keamanan dan bertumpuk – tumpuk ban dalam yang siap untuk digunakan. Tetiba kami disapa mas – mas paruh baya yang tidak lain tidak bukan adalah mas pemandu kami selama karst tubing. Beliau bernama mas Anto, pemuda lokal yang siap memandu kami menjelajah karst tubing Sedayu.

                “Sebelum memulai petualang kita, mari berdoa sesuai keyakinan masing – masing dan setelah itu akan saya berikan penjelasan singkat untuk memulai karst tubing di sini,” jelas mas Anto penuh semangat. Setelah berdoa dan briefing singkat, kami dipandu untuk berjalan ke lokasi nyemplung – nyemplung sekitar 10 menit. Nah itulah keistimewaan paket kedua. Berjalan kaki melewati rumah penduduk dan hamparan sawah di kiri jalan sungguh sangat mengasyikan. Selain pemanasan sebelum terjun di air, warga lokal yang kami temui juga tersenyum ramah sekali.

                Sampailah kami di titik pertama karst tubing. Setelah semua di air yang dingin dan segaaar, mas Anto memandu kami menuju rute tirai akar. Di sini, kami menyusuri sungai dengan akar – akar gantung yang indah yang bergelantungan di atas kami. Tangan dan kaki diajak untuk terus bergerak demi menjaga keseimbangan dan agar tetap mengikuti arus. Trek berikutnya adalah aliran datar, di trek ini kami diwajibkan menggunakan seluruh tenaga untuk balapan dengan teman lainnya. Setelah ngos – ngosan saling berkejaran kami dipandu menuju trek berikutnya yaitu luncuran. Tidak terlalu tinggi, hanya sekitar satu meter kami harus meluncur perorangan. Walaupun tidak tinggi, cukup membuat jantung berdebaran loh. Tapi tenang, para pemandu siap menjaga kok.


foto oleh mas Sugeng, fotografer karst tubing
foto oleh mas Sugeng, fotografer karst tubing

Masih ada beberapa trek lagi yang harus dilalui. Di trek dinding pantul, kita akan dipantul – pantulkan oleh dinding karst yang cukup sempit sampai bertemu dengan trek leher botol. Di trek leher botol arusnya tidak terlalu deras dan spot yang bagus untuk berfoto. Tentunya fotografer kami sudah siap dengan kameranya untuk mengabadikan petualangan kami. Di trek berikutnya yaitu lubuk kedung, kami bisa meloncat bebas dari ketinggian satu setengah meter dan terjun di air yang kedalamannya hampir tiga meter. Mendebarkan tapi juga kecanduan loh. Nah trek terakhir adalah arus liar, air sungai yang deras akan membawa kami menuju titik pemberhentian. Petualangan yang menyenangkan untuk mengusir jenuh dan penatnya aktivitas di Jogja.

                Setelah bersih – bersih badan, kami disuguhi makanan – makanan lokal yang enak banget. Pisang goreng, ketela rebus, ketela goreng dan teh panas membuat kami segar setelah tangan dan kaki pegal bermain air. Wisata air baru yang tidak akan menyesal untuk tidak mengunjunginya lagi.

Dimanapun kalian traveling, keep the place clean ya guyss!

Salute,
FloraSakti




Thursday, November 10, 2016

Karimun Jawa, Surga Tersembunyi di Jawa

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki berjuta potensi wisata yang indah dan berbeda dari negara-negara lain. Apalagi potensi wisata alamnya, tidak ada duanya mulai dari ujung barat sampai timur. Makin banyak potensi-potensi wisata yang dikembangkan oleh masyarakat lokalnya menjadi daerah tujuan wisata. Tapi, banyaknya daerah wisata yang dibangun harus pula diiringi dengan pembangunan infrastruktur pendukung yang tepat dan sesuai.
Pembangunan pariwisata di Indonesia harusnya memenuhi teori 4A (Cooper,2005) yaitu aksesibiltas, atraksi, amenitas dan ancillary Teori 4A dalam pariwisata. Biasanya daerah-daerah tujuan wisata lemah dalam pengembangan amenitas atau fasilitas pendukungnya.
Nah, saya mengunjungi sepotong surga tersembunyi yang terlupakan beberapa bulan lalu. Pulau kecil di utara pulau Jawa, dengan penduduk mayoritas adalah nelayan yang menggantungkan hidupnya di laut lepas. Untuk menuju pulau tersebut membutuhkan waktu hampir lima jam perjalanan laut dengan kapal siginjai dari pelabuhan kartini, Jepara. Ya! Pulau itu Karimun Jawa, Surga kecil yang tersembunyi.

Kapal Siginjai
Dokumentasi Pribadi


Pantai Pancuran
Dokumentasi Pribadi

Pantai Legoon Lele
Dokumentasi Pribadi

Senja di Karimun
Dokumentasi Pribadi

Empat hari tiga malam rasanya tak cukup puas menikmati indahnya pulau Karimun Jawa. Banyaknya pulau-pulau indah lain yang mengelilingi Pulau Karimun Jawa juga menjadi nilai tambah pariwisata di Kepulauan Karimun Jawa. Berbagai potensi wisata alam dikembangkan dan dipromosikan. Pantai-pantai yang tadinya masih suci dibuka untuk wisatawan. Bukit-bukit mulai ditelusuri dan dirombak menjadi spot melihat matahari terbenam maupun matahari terbit. Masyarakat mulai tak asing dengan pariwisata, masyarakat mulai tidak kaget dengan wisatawan yang tiba-tiba memasuki daerah mereka. 

Bukit Cinta
Dokumentasi Pribadi

Matahari terbenam di Bukit Cinta
Dokumentasi Pribadi

Tidak diragukan lagi Karimun Jawa memiliki pantai-pantai dengan pasir putih yang indah dan terumbu karang yang bagus dan tidak kalah dengan pantai di Indonesia timur. Menjadi salah satu dari surga tersembunyi Indonesia dalam bidang pariwisata membuat Karimun terus berbenah.(surga tersembunyi Karimun Jawa) Tidak hanya wisata lautnya yang menarik untuk dieksplor. Wisata Budaya dan wisata yang berada di pulau Karimun juga sangat bagus untuk dikunjungi. Saya sempat mengunjungi hutan mangrove di perbatasan Pulau Karimun Jawa dengan Pulau Kemujan. Tidak hanya itu, sebelum menuju pantai batu pengantin, saya melewati sebuah perkampungan penduduk bugis dengan rumah adat mereka yang berjajar rapi. Sungguh menakjubkan menemukan keunikan seperti itu di Pulau yang masih berada di wilayah Jawa. Sayang seribu sayang, akses jalan di Pulau Karimun Jawa masih kurang, karena ada sebagian jalan-jalan yang berlubang dan bahkan masih belum bersemen, atau hanya pasir saja. Padahal, banyak sekali atraksi wisata terutama pantai yang tersembunyi, dan sangat sulit untuk mencapai pantai-pantai tersembunyi tersebut.
Sebagai pulau yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Jawa, Karimun Jawa memang menjadi spot wisata favorit untuk melepaskan penat dan memiliki pengalaman baru. Masih dalam topik aksesibilitas, akses menuju Karimun Jawa ada tiga cara, yang pertama adalah menggunakan kapal siginjai dengan waktu tempuh selama lima jam perjalanan. Kemudian menggunakan kapal express dengan waktu hanya tiga jam perjalanan dan menggunakan pesawat kecil dari bandara Ahmad Yani di Semarang. Namun sayang, pengoperasian bandara di Pulau Karimun Jawa sendiri masih sangat kurang dan terbatas.

Menanam Mangrove
Dokumentasi Pribadi

Jalan di Hutan Mangrove
Dokumentasi Pribadi

Apabila akses yang ada sudah bisa dioptimalkan dengan baik, entah itu akses laut maupun udara, Karimun Jawa akan menjadi destinasi tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi, terutama untuk wisatawan mancanegara. Selain itu, ada al lain dalam pengembangan pariwisata di Karimun Jawa, sebagai suatu destinasi wisata bahari dengan kekayaan alam lautnya, masyarakat Karimun Jawa perlu mendapat sosialisasi maupun penyuluhan baik untuk nelayan maupun pemandu lokal. Tanpa sosisalisasi yang tepat, kekayaan alam laut akan mubazir dan tidak tahu bagaimana cara menjaganya. Karena terumbu karang membutuhkan waktu 1 tahun untuk tumbuh sekitar 1 cm dan butuh waktu lebih dari 10 tahun untuk membentuk satu terumbu karang yang indah. Sayang bila terumbu-terumbu itu rusak akibat ulah wisatawan atau malah masyarakat lokalnya sendiri.

Snorkeling
Dokumentasi Pribadi

Terumbu Karang di Karimun
Dokumentasi Pribadi

Pemandangan bawah laut Karimun Jawa
Dokumentais Pribadi

Tidak hanya itu, kebersihan pantai juga menjadi prioritas dalam pengembangan pariwisata di Karimun Jawa. Banyak sekali sampah yang mengendap di sekitaran pantai di Pulau Karimun. Sampah itu berasal dari sampah yang dibawa oleh wisatawan dan banyak juga sampah yang berasal dari Pulau jawa seperti dari Semarang atau Jepara itu sendiri. Untungnya ada beberapa komunitas yang mendedikasikan dirinya untuk sekedar membersihkan sampah-sampah tersebut.

Membersihkan sampah di Karimun Jawa
Dokumentasi Pribadi

Pembangunan pariwisata di Karimun Jawa sangat perlu terutama dengan sosialisasi secara langsung kepada masyarakat lokal Karimun Jawa tentang pentingnya sustainable tourism dalam pariwisata. 

Sunday, October 30, 2016

Menggenggam Mentari Pagi di Punthuk Setumbu Borobudur

Pagi yang sejuk dengan bau dedaunan dan tanah pedesaan di daerah Borobudur membuat saya betah berlama-lama memejamkan mata dalam hangatnya selimut. Udara dingin yang menyusup di celah-celah jendela homestay seraya mendukung untuk tidak keluar dari kamar. Terngiang cerita orang tentang indahnya matahari terbit tetap tidak membuat saya beranjak dari kasur berselimut putih ini. Tapi tunggu, matahari terbit di daerah Borobudur adalah fenomena yang berbeda dan istimewa. Hal itulah yang membuat saya datang ke Borobudur dan bangun pagi buta ditemani udara dingin yang menusuk-nusuk pagi ini.
Suasana pedesaan masih sunyi senyap. Saya langkahkan kaki keluar dari kamar dan bertemu Pak Yudi, pemilik homestay di tempat saya menginap. Sebelumnya beliau memang telah berjanji untuk menemani saya menyaksikan indahnya matahari terbit di Punthuk Setumbu atau lebih dikenal dengan Borobudur Nirwana Sunrise.
                “Selamat pagi, sudah siap lihat sunrise terbaik di Borobudur, dek?” sapa Pak Yudi penuh semangat sembari menyodorkan teh manis panas dan pisang goreng yang masih hangat. “Dimakan dulu sebelum berangkat.”
                Perjalanan dari homestay saya di desa wisata Candirejo menuju Punthuk Setumbu hanya membutuhkan waktu 15 menit karena jaraknya hanya sekitar 7 kilometer. Bagi teman-teman yang berangkat dari Yogyakarta saya sarankan berangkat lebih pagi lagi karena membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan. Letak Punthuk Setumbu sangat mudah untuk diakses. Tinggal mengikuti petunjuk jalan yang berada di pinggir jalan atau menggunakan aplikasi maps di smartphone. Oh iya, bagi yang masih takut tersesat, masyarakat lokal daerah Borobudur biasanya siap mengantar, mereka biasa ditemui di depan pintu masuk Taman Wisata Candi Borobudur. Dalam perjalanan, kami melewati desa Borobudur – Ngaran Bawah – Bumi segoro – Kretek – Kurahan.
                 Punthuk Setumbu sendiri berada di dusun Kurahan desa Karagrejo kecamatan Borobudur. Sekitar 4 kilometer dari Candi Borobudur. Sampailah kami di titik pemberhentian menuju puncak Punthuk Setumbu. Parkiran untuk mobil dan motor lumayan luas untuk destinasi yang berada di wilayah perkampungan penduduk. Karena kami berangkat sebelum adzan subuh, kami menyempatkan untuk beribadah subuh terlebih dahulu di mushola yang sudah disediakan. Kamar mandi dan toiletnya pun tersedia dan bersih.

                Setelah menunaikan Sholat kami berdua segera menuju tempat penjulan tiket. Tiket masuk Punthuk Setumbu dibagi menjadi dua golongan, untuk wisatawan domestik Rp 15.000,-/per orang dan  untuk wisatawan mancanegara Rp 30.000,-/per orang. Harga yang cukup murah untuk keindahan yang tidak bisa disaksikan ditempat lain. Dua tiket sudah berada digenggaman, kami siap mendaki untuk menuju puncak Punthuk Setumbu.
                Dibutuhkan waktu sekitar 15 menit mendaki anak tangga tanah yang sengaja dibuat untuk memudahkan wisatawan mendaki bukit yang tingginya 400 meter ini. Langit masih gelap dan suara serangga masih terdengar mengalun menemani sinar bohlam lampu yang sudah dipasang di tiap titik pendakian. Udara masih dingin, jangan lupa untuk mengenakan pakaian tebal agar tidak kedinginan.

anak tangga di Punthuk Setumbu
sumber: dokumentasi pribadi

                Akhirnya, sampai juga di puncak Punthuk Setumbu. Terdapat beberapa bangku dari bambu untuk beristirahat sembari menunggu sunrise datang. Pembatas bambu juga dipasang dipinggir jurang untuk perlindungan wisatawan. Suasana saat itu sudah lumayan ramai oleh wisatawan. 

wisatawan asyik mendokumentasikan sunrise
sumber : dokumentasi pribadi

      Semburat orange mulai nampak perlahan dari arah timur. Matahari perlahan terbit dengan bangganya diantara gunung merbabu dan gunung merapi. Tampak Candi Borobudur dengan megah menemani keindahan matahari pagi itu. Candi Borobudur tambak berada di rawa-rawa dengan kabut putih menyelimutinya. Sungguh, pemandangan yang luar biasa indah dan hanya bisa ditemui di Borobudur, terutama di Punthuk Setumbu.

semburat matahari yang perlahan muncul
(dokumentasi pribadi)

matahari muncul perlahan
(dokumentasi pribadi)

tampak Candi Borobudur seperti di rawa-rawa
(dokumentasi pribadi)

pesona Jawa Tengah!
(dokumentasi pribadi)

menggegam matahari
(dokumentasi pribadi)

                Tidak hanya bagian timur dari Punthuk Setumbu yang menarik, ketika kalian berjalan menuju sisi selatan, pemandangan bukit menoreh dan pedesaan-pedesaan dibawahnya yang nampak kecil serta diselimuti kabut menjadi nilai tambah tersendiri untuk mata kami.

pemandangan sisi lain punthuk setumbu
(dokumentasi pribadi)

Indahnya Punthuk Setumbu
(dokumentasi pribadi)

                Sebelum turun, kami menyempatkan menyeruput secangkir kopi di warung yang telah tersedia sambil bercengkerama dengan pemilik warung.
                “Dulu, bukit ini hanya bukit biasa, masyarakat sekitar bekerja sebagai petani. Tapi, sejak dibukanya Punthuk Setumbu tahun 2010an, kehidupan ekonomi masyarakat mulai terbantu. Banyak yang kerja seperti saya jualan makanan dan minuman, tukang parkir, dan pengelolaan Punthuk Setumbu sendiri dikelola oleh masyarakat kami sendiri. Banyak wisatawan asing yang senang mengunjungi Punthuk Setumbu,” Cerita pemilik warung dengan senangnya.

saya sedang mengambil moment berharga
(dokumentasi pribadi)

                 Satu lagi wisata yang menarik dari Magelang, Jawa Tengah yang sudah berhasil membuat mata saya terkagum-kagum. Tidak hanya Candi Borobudur yang menjadi ikon Magelang, banyak sekali obyek wisata lain yang menarik untuk dikunjungi dan dieksplor di Jawa Tengah. Mari kembangkan wisata Jawa Tengah menuju wisata yang berkelanjutan! Karena Pesona Jawa Tengah tidak akan pernah ada matinya. Alam, budaya, masyarakat dan wisata minat khusus lainnya secara berkesinambungan mendukung Pesona wisata Jawa Tengah.


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)

Tuesday, August 30, 2016

Nyantai di Kedai Wedangan Watu Lumbung

Pernah nongkrong asik sambil lihat matahari terbenam ? Atau minum kopi bareng ditemenin pemandangan lampu-lampu kota? Kalau belum, kamu harus ke kedai watu lumbung.

pict by Farah, Kelana Wisata

Kedai ini terletak 27 kilometer dari kota Jogja dan dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Kalau mau lihat sunset disarankan berangkat agak sore dan pastikan tidak mendung ya. Akses menuju kedai watu lumbung sangat mudah, kalau dari Jogja kota, lewatlah jalan parangtritis lurus terus sampai jembatan kali oya ada pertigaan kecil belok kiri sekitar 500 meter baru belok kanan, kedai wedangan watu lumbung terletak di kanan jalan. Dari bawah sudah nampak bangunan-bangunan kecil berbahan kayu dan bambu meghiasi bukit yang oleh orang sekitar disebut bukit seribu.

google maps
               
  Menu yang ada di kedai wedangan watu lumbung ini juga bervariasi loh. Ada banyak jenis kopi mulai dari kopi lintang, kopi papua, kopi flores dan masih banyak kopi lainnya. Tidak hanya itu, berbagai macam minuman tradisional turut melengkapi menu di kedai wedangan watu lumbung ini, mulai dari wedah uwuh, teh tarik, dan lain sebagainya. Kalau pagi hari biasanya ada menu jajanan pasar seperti growol, tiwul, nogosari, gethuk. Siang beda lagi nih menunya, ada sayur rumahan, nasi tempe, dan lain-lain. Pagi dan siang beda dan enak-enak kan. Malam apalagi nih guys. Ada ketela goreng, peyek, tempe goreng dan lain-lain. Wah makin kepo kan buat mampir ke kedai ini. Eh denger-denger dari mbak yang jaga di menu, bahan-bahan makanan dan minuman diambil dari sekitar kedai loh.
                Sesuai namanya, kedai wedangan watu lumbung tidak hanya untuk nyantai dan ngopi asik loh. Sebagai kampung edukasi, disini ada sebuah perpustakaan kecil yang koleksinya lumayan lengkap. Nah, kalau mau gratisan nih ya, cukup bawa buku yang masih layak baca untuk disumbangkan ke perpus mini ini. Bantuan kecilmu akan sangat berarti untuk masyarakat ataupun tamu yang datang ke kedai ini. Eh tapi ga cuma buat dapet gratisan aja loh, niatkan untuk kepedulian akan generasi muda dan belajar menghargai alam dan sekitarnya.
pict by Farah, Kelana Wisata
                Balik lagi ke konsep arsitektur di kedai wedangan watu lumbung, kedai ini memang benar-benar mengambil tema alam yang nyantai dan terkesan artsy dengan pilihan bambu-bambu yang dijadikan pagar dan kursi kayu berukiran tak beraturan menghiasi tiap sudut kedai. Fasilitas seperti toilet dan mushola kecil juga tidak jauh dari kesan pedesaan yang nyeni dengan ada beberapa lukisan menempel di dinding-dindingnya. Coret-coretan himbauan atau sekedar anekdot dan papan menu juga tak kalah nyentrik walau menu pesanan hanya menggunakan kertas hvs print-print –an.
pict by Farah, Kelana Wisata

pict by Farah, Kelana Wisata

pict by Farah, Kelana Wisata

pict by Farah, Kelana Wisata

pict by Farah, Kelana Wisata

pict by Farah, Kelana Wisata
                

Segelas kopi, pisang goreng panas, pemandangan alam Bantul dan suasana pedesaan yang masih kental akan menjadikan soremu sore yang syahdu.












Friday, April 22, 2016

Potensi Sabang sebagai Daya Tarik Pariwisata Aceh

Indonesia memang tidak ada habisnya kalau soal pariwisata. Mulai dari ujung utara samapi selatan, dari barat sampai timur ada aja yang bikin mata ga berhenti-berhenti buat memandang takjub. Tapi kali ini, saya ga akan ngebahas semua potensi wisata di Indonesia. Ga cukup satu postingan nih. Jadi, saya bakal bahas tuntas tentang ujung barat Indonesia. Tadaaaaaaa, wilayah yang dijuluki serambi mekkah ini tidak kalah dalam hal pariwisata. Yaps! Pemerintah Aceh sedang giat-giatnya membangun industri pariwisata disini.
Pulau sabang adalah pulau paling barat di Aceh. Sebagai pulau yang sempat diterpa bencana besar, sabang mulai bangkit dan perlahan membangun industri pariwisatanya. Tidak hanya wisatawan domestik yang berkunjung ke sabang. Wisatawan mancanegara sangat tertarik dengan sabang, kapal-kapal pesiar besar berlabuh dan menurunkan wisatawan di sabang. Sure! Pasti akan menaikan devisa negara. Bayangkan saja apabila target wisatawan yang datang ke sabang banyak, ga hanya devisa negara, masyarakat lokal pasti akan terbantu dengan datangnya pariwisata di Sabang. Thats why, saya sukaaa banget liat masyarakat lokal sabang, mereka terbuka dan mau menerima kehadiran wisatawan di Sabang.
Nah, soal wisata bahari di sabang emang gaada matinya! Kalian bisa menikmati surga bawah air di pulau weh sabang dengan bersnorkeling atau diving. Pantai Iboih adalah pantai paling famous untuk ber-diving ria. Jaraknya sekitar 50km dari pelabuhan Balohan Sabang. Tidak perlu khawatir, di Pantai Iboih terdapat berbagai akomodasi untuk menginap. Homestay, cottage, hotel bahkan bisa menginap di rumah warga sekitar. Santai saja karena masyarakat Sabang memang terkenal baik dan sanatai abis. Bahkan ada pemandu yang bilang kalau asal kata Sabang adalah Santai banget. Lol. Anyway, di Pantai Iboih, wisatawan dapat menikmati keindahan terumbu karang pulau weh, atau menikmati pemandang hamparan laut lepas samudra Hindia dan pemandangan gunung berapi di dalam laut! Dimana lagi coba kalau ga di Sabang! Buat yang tidak mempunyai alat menyelam atau snorkeling, di sana banyak penyewaan-penyewaan alat-alat snorkeling dan diving. So, santai aja ma bro!
Berjalan sebentar sekitar 250meter kalian akan menemukan pantai yang ga kalah indah. Pantai Rubiah! Di pantai rubiah kalian bisa menyelam atau bersnorkeling ria, karena airnya jernih bangettttt mencapai kedalaman 10-15 meter. Banyak banget terumbu karang indah di pantai rubiah, ada karang meja, karang tanduk, karang batik dan beberapa bekas mobil-mobil yang sengaja di tenggelamkan ketika tragedi tsunami beberapa tahun yang lalu. Ga Cuma wisata airnya yang menawan. Terdapat sejarah yang asik banget dari pantai rubiah. Pantai rubiah memiliki bekas karantina haji dari seluruh wilayah di Indonesia. Inilah asal mula Aceh disebut serambi Mekkah, karena dulu sebelum berangkat ke tanah suci, masyarakat seluruh Indonesia berkumpul dulu di sini dan kemudian baru diberangkatkan ke tanah suci. Sayangnya, masih banyak pengunjung yang tidak sadar akan sejarah tersebut dan acuh, padahal sangat menarik untuk disimak dan dijadikan cerita. Dan sayangnya lagi, bekas karantina tersebut sekarang sudah banyak docoret-coret oleh tangan tak bertanggung jawab. Mungkin perlu adanya sosialisasi terhadap masyarakat lokal dan pengunjung akan meningkatkan kesadaran pariwisata di daerah pantai Rubiah.
Meluncur ke darat setelah puas berenang bersama ikan – ikan dan terumbu – terumbu karang yang indah. Kalian harus banget banget ke Tugu titik nol kilometer di Sabang. Kenapa harus kesini?? Pertanyaan bagus. Tugu titik nol kilometer atau monumen titik nol kilometer adalah sebuah penanda geografis titik nol di ujung barat Indonesia. Nah, lokasi tugu ini berada di antara hutan Sabang dan hanya berjarak 5 km dari pantai Iboih. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit guys! Dan menariknya, kita akan melewati monkey road dimana kanan-kiri jalan akan banyak monyet-monyet bermunculan. Bisa kok berhenti dan ngasih makan ke mereka. oh iya, kalian juga bisa dapat sertifikat loh kalau mengunjungi tugu ini, tapi untung-untungan sih, tergantung travel agen dan kepentingan kalian ke tugu nol kilometer juga. So here iam. Berada di titik terbarat Indonesia!
               
Selamat berkelana! Kembangkan pariwisata dalam negri! Saveterumbukarang dan jangan lupa jalan-jalan!



Mari Rayakan Sabang Marine Festival 2016 Lewat Tulisan
Pariwisata Aceh

Friday, April 1, 2016

Ekowisata Taman Sungai Mudal

Yogyakarta, apa yang bakal kalian pikirkan tentang satu tempat istimewa ini? Budayanya? Wisatanya? Masyarakatnya? Alamnya?
Coba kalau wisata? Apa yang terbesit dalam benak kalian? Keraton? Tugu? Malioboro?
Kalau alam? Pantai pasti, Gunung Kidul pasti. Padahal, wisata di Jogja banyak banget, ga melulu soal keraton, tugu, candi dan pantai-pantai di Gunung Kidul  loh. Do u ever imagine about waterfall? Rice field? Fresh atmosphere? Do u ever hear Kulon Progo?
Kalau sebagai masyarakat Jogja entah itu mahasiswa, perantau atau lokal youth nya pasti ga asing sama Kulon Progo. Yuhuu, Kulon Progo lagi jadi trending topic wisatanya Jogja. Apalagi semenjak boomingnya instagram. Everybody try to be traveler, sok ala-ala pecinta alam, sok ala-ala anak explore. Ya bagus sih, bisa mengembangkan wisata lokal dan membantu masyarakat sekitar destinasi tapi ya diimbangi dengan jagain lingkungan juga dong, ga buang sampah sembarang misal.
Nah balik lagi soal Kulon Progo. Uhuy tahu potensi wisata di Kulon Progo apa aja ga nih? Kebanyakan sih Air Terjun ya, soalnya daerah Kulon progo memang berada di sekitar perbukitan Menoreh yang asri nan teduh. Banyak sumber air yang turun dan mengalir membentuk suatu aliran air yang indah. Istimewanya, air terjun – air terjun di Kulon Progo itu jernih dan bentuknya beda – beda dari air terjun yang satu dengan air terjun yang lain. Karena potensi yang luar biasa itu, pemerintah dan masyarakat Kulon Progo bekerja keran buat mengembangkan air terjun – air terjun tersebut menjadi suatu destinasi wisata. Dan hasilnya? Walaaaa dapat kita lihat sendiri, Kulon Progo menjadi salah satu daerah yang ga boleh dilupakan untuk dikunjungi ketika datang ke Jogja.
Salah satu dari air terjun di Kulon Progo adalah Taman Sungai Mudal, sebenarnya bukanlah asli air terjun, namun suatu sungai yang dibendung dan terbentuklah air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Ya anggap saja air terjun yak.
pict by kelana wisata
Air terjun yang terletak di Banyunganti, Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo kabupaten Kulon Progo ini resmi dibuka menjadi tempat wisata sejak 15 Juni 2105, dan ramai sekali dikunjungi wisatawan domestik setiap sabtu minggu, kadang weekday pun Taman Sungai Mudal tetap ramai dikunjungi. Ada beberapa spot air terjun disini, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Selain itu, ada spot untuk berenang di tempat paling bawah setinggi 2 meter. Tempatnya adem enak banget buat sekedar bersantai sambil renang-renang ceria. Ada tiga jembatan unyu menggunakan bambu yang bagus juga buat spot foto. Selain itu, Taman Sungai Mudal juga memiliki camp site, buat wisatawan yang ingin menginap atau sekedar ala-ala disana. Ada juga penyewaan hammock dan FLYING FOX oh My! Walaupun hanya pendek sekitar 500 meteran atau berapa ya, tapi its so funny! Hanya Rp 10.000 lagi. Dan Retribusinya juga murah banget untuk air terjun yang indah ini, hanya keluarin uang sebesar Rp 3000 dan Rp 2000 untuk parkir. So cheapy!!!
pict by kelana wisata
Tetapi, buat ke Air terjun ini butuh perjuangan ekstra! Kalau dari Jogja kalian bisa lewat jalan Godean lurus terus ikuti jalan. Banyak plang penunjuk kok. Atau lihat di map! How technology so damn help us! Anyway, kalo naik motor agak berat waktu tanjakan menuju Jatimulyonya. Tapiiii, pemandangannyaaaaa kalian ga akan nyesel pernah datang ke Kulon Progo! Oh iya, di dekat Taman Sungai Mudal juga ada beberapa spot air terjun yang lebih WOW lagi. Jaraknya pun ga jauh-jauh banget kok. Yuk ramaikan tagar #explorejogja dengan tetap cintai alam ini, cintai Jogja dan kembangkan pariwisata berkelanjutan!
pict by http://direktori-wisata.com/

Stay Awesome! See ya on the next journey gals! J





Gunung Batur, Tiktok Satu Hari Saat Kuningan

Perjalanan ini sungguh perjalanan tak direncanakan. Pumpung libur dari internship, aku mengajak beberapa temanku di Bali untuk mendaki gunu...